ACEH BESAR – Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam (GPI) Aceh Besar Fahril Muzanna mengatakan, penghargaan Proper Hijau yang diberikan Gubernur Nova Iriansyah pada (13/06) kepada PT. Solusi Bangun Andalas (SBA) melalui Presiden Direkturnya Lilik Unggul Raharjo adalah kontras.
“Bagaimana mungkin penghargaan peduli lingkungan atau proper hijau diberikan pemerintah Aceh kepada PT. SBA yang saat bersamaan justru mereka merusak lingkungan, ini kontras dan benar-benar gila (Insane),” tuturnya. Rabu (15/6/2022).
Lanjutnya, kata Muzanna, Tujuh (7) kali saya ulang baca dari laman acehprov.go.id mengenai paparan Nova tentang langkah-langkah korektif Pemerintah, dan tidak satu pun tidak dilakukan PT. SBA ini.
Ia menambahkan, Membuat bulu kuduk saya bangun, demi Allah saya merinding lanjutnya. Dapat disimpulkan bahwa Pemerintah Provinsi benar-benar menutup mata selama ini terhadap persoalan lingkungan yang disebabkan proses produksi SBA.
“Tumpahan batu bara yang berakibat rusaknya ekosistem dan biota laut, kekeringan melanda Lhoknga, bising akibat pembomman bahan baku, pencemaran udara, sumber air sungai krueng raba mengecil, ini masalah yang kompleks tapi sama sekali tidak digubris Pemerintah,” papar Muzanna.
Katanya, Mengenai volume tumpahan batu bara ke laut, tidak pernah dikonfirmasi SBA ke masyarakat, artinya ada hal yang memang ditutupi. Dan pemerintah Aceh justru ikut nimbrung menutupinya, ditambah pemberian penghargaan peduli lingkungan yang secara etis tidak pantas diberikan.
Lanjutnya, Terkait komitmen pencegahan kehilangan keanekaragaman hayati, perlindungan wildlife dan habitatnya hanya janji saja. Tidak ada yang benar-benar disikapi Solusi Bangun Andalas sebagai PT besar, dan begitu juga pemerintah tidak serius hanya melihat permasalah ini dengan sekterian Lhoknga, Leupung saja.
“Dalam cuitan Facebook saya tulis dalam ilmu hukum ada istilah (Das sein/Das sollen) : Apa yang seharusnya terjadi, dan apa yang kenyataannya terjadi. PT. SBA dianggap peduli lingkungan dan pada kenyataannya tidak demikian, sama sekali tidak. Lantas pertanyaan saya, layak kah penghargaan Peduli Lingkungan itu diberikan? Ketika ketidaksesuaian antara Das sein san Das sollen terjadi, maka saat itulah masalah timbul.”
“Seperti berbisik keras kepada situli dan menyuruh membaca dengan nada nyaring pada sibisu, saya kira istilah ini cocok untuk mendeskripsi kehadiran PT. SBA di Aceh Besar,” tutup Muzanna Ketua Umum PD-GPI Aceh Besar.






