INFONANGGROE.COM – Kematian seorang wanita berinisial IP (27) di Kampung Sepang Susukan, Kota Serang, awalnya dilaporkan sebagai kasus bunuh diri. Namun, hasil penyelidikan polisi justru mengungkap fakta berbeda. IP diduga tewas setelah dianiaya pacarnya sendiri, AH (36), yang kemudian merekayasa kematiannya seolah-olah korban mengakhiri hidup dengan cara gantung diri.
Kasus tersebut bermula dari aktivitas korban bersama AH dan dua orang lainnya di sebuah kontrakan pada Minggu sore. Polisi menyebut keempatnya berada di dalam kontrakan dan mengonsumsi minuman keras.
“Awalnya ini pada hari Minggu jam 16.15 WIB di kontrakan tersebut berkumpul lah almarhumah, tersangka berinisial AH, kemudian kawannya berinisial AS, dan satu orang lagi kawannya berinisial MR. Itu di dalam kontrakan tersebut mereka minum-minuman keras,” kata Angga, Jumat (18/9/2026), dikutip dari detiknews.
Beberapa jam kemudian, situasi di kontrakan tersebut mulai terdengar oleh warga sekitar. Pada rentang waktu sekitar pukul 19.30 hingga 20.00 WIB, tiga warga mendengar keributan dari dalam kontrakan. Mereka kemudian mendatangi lokasi untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
“Kemudian antara pukul 19.30 sampai dengan jam 20.00, warga mendengar ada tiga orang saksi yang mendengar adanya keributan di kontrakan tersebut. Sehingga ketiga orang warga tersebut mendatangi kontrakan tersebut untuk menanyakan kenapa ini ada ribut-ribut,” jelasnya.
Setelah itu, sekitar pukul 23.00 WIB, AH menghubungi dua temannya untuk menjemputnya di sebuah Warung Madura. Lokasi warung tersebut disebut hanya berjarak sekitar 100 meter dari kontrakan. Saat itu, AH beralasan hendak mencari pria yang diduga menjadi selingkuhan korban.
“Nah, kemudian jam 23.00, dari awalnya si tersangka ini menghubungi temannya dua orang tersebut untuk menjemput di Warung Madura. Warung Madura ini dengan kontrakannya ini kurang lebih berjalan berjarak 100 meter. Dengan alasan untuk mencari seseorang yang diduga selingkuhan almarhumah ini,” katanya.
Kedua teman AH kemudian mengantarnya hingga ke depan masjid yang berada sekitar 50 meter dari kontrakan. Setelah AH turun, keduanya meninggalkan lokasi dan kembali pulang. Namun, sebelum sampai ke rumah masing-masing, keduanya kembali mendapat telepon dari AH.
Dalam telepon tersebut, AH menyampaikan bahwa IP telah meninggal dunia karena gantung diri.
“Para saksi ini mengantarkan tersangka ini ke depan masjid yang kurang lebih antara kontrakan dengan masjid itu berjarak 50 meter. Setelah itu, setelah ditinggalkan, kemudian dua orang saksi ini kembali pulang. Kembali pulang, namun belum sempat kembali ke rumahnya masing-masing, mereka ditelepon oleh tersangka dengan mengatakan bahwa almarhumah telah meninggal dengan gantung diri,” ujar Angga.
Teman AH kemudian kembali ke lokasi. Saat tiba di kontrakan, mereka melihat tubuh IP sudah berada di bawah. Polisi menyebut kondisi korban yang sebelumnya dikatakan tergantung hanya diketahui oleh AH.
“(Teman tersangka) melihat adanya almarhumah ataupun korban itu sudah tergeletak di bawah. Jadi yang tahu kondisi itu tergantung adalah tersangka,” ujarnya.
IP kemudian ditemukan tewas pada Senin (14/9). AH menjadi orang yang menemukan jasad korban dan pada keterangan awal mengaku melihat IP dalam posisi tergantung di kusen kamar. Jasad korban selanjutnya dievakuasi ke rumah sakit.
Namun, keterangan tersebut kemudian menimbulkan kecurigaan. Polisi melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi serta pemeriksaan medis terhadap jenazah korban.
“Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi, kemudian hasil visum dan otopsi sementara, kami menemukan adanya dugaan bahwa almarhumah meninggal dunia bukan karena gantung diri, tetapi penyebabnya karena adanya penganiayaan,” jelasnya.
Polisi juga menemukan adanya persoalan antara korban dan AH sebelum kematian IP. Keduanya disebut sempat terlibat percekcokan yang berkaitan dengan dugaan perselingkuhan korban dengan pria lain.
“Korban sempat terlibat percekcokan dengan AH terkait permasalahan dugaan perselingkuhan korban dengan pria lain,” kata Kasat Reskrim Polresta Serang Kota Kompol Alfano Ramadhan kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).
Dari rangkaian pemeriksaan tersebut, dugaan bahwa kematian IP merupakan bunuh diri pun berubah. Polisi menyebut terdapat dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia, sementara kondisi korban kemudian direkayasa untuk mengesankan seolah-olah korban tewas akibat gantung diri.






