Mekkah dan Jeddah Terancam Serangan, Arab Saudi Keluarkan Alarm Bahaya

Mekkah dan Jeddah Terancam Serangan, Arab Saudi Keluarkan Alarm Bahaya
Ilustrasi bendera Arab Saudi, salah satu negara terkuat di dunia.(iStockphoto/Aoraee)

INFONANGGROE.COM – Ketegangan memuncak saat alarm peringatan serangan mendadak berbunyi di Kota Mekkah, Jeddah, dan Taif pada Selasa (15/9/2026). Meski dengan cepat dicabut oleh otoritas pertahanan sipil setempat, peringatan perdana di kawasan suci Mekkah sejak dimulainya perang Timur Tengah ini mengungkap satu realitas genting: Arab Saudi kini berada dalam posisi yang sangat rentan.

Kewaspadaan tinggi kerajaan tersebut sangat beralasan. Sehari sebelum alarm berbunyi, rentetan gempuran rudal balistik dan pesawat tak berawak dari Yaman melukai 13 orang di kawasan selatan Arab Saudi. Di tengah eskalasi perang terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ruang gerak Riyadh kini kian menyempit.

Bacaan Lainnya

Negara pengekspor minyak terbesar dunia ini praktis dikepung ancaman dari tiga penjuru. Mereka harus menghadapi sabotase kapal tanker di Selat Hormuz, penutupan jalur pipa minyak menuju Laut Merah, hingga penguasaan rute maritim strategis oleh milisi Houthi. Kondisi pelik ini kian diperparah oleh batalnya pertemuan diplomatik antara negara-negara Teluk dan Iran pada Minggu (13/9/2026) malam akibat perbedaan prinsip yang terlalu tajam di antara para pihak.

“Saat ini Arab Saudi benar-benar frustrasi. Dalam beberapa hal, ini adalah skenario terburuk mereka,” kata mantan Duta Besar AS untuk Arab Saudi, Michael Ratney, dikutip dari Kompas, Senin (14/9/2026).

Frustrasi yang dialami Riyadh tak lepas dari sikap dingin Washington. Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) tercatat telah menanamkan modal finansial dan politik yang sangat besar selama bertahun-tahun demi menjalin kedekatan personal dengan Donald Trump. Sayangnya, investasi tersebut terasa sia-sia di saat kritis. Ketika MBS sampai dua kali memohon kepada Presiden AS itu untuk menggelar operasi militer balasan terhadap Houthi, Trump justru bergeming.

Penolakan tersebut didasari keengganan Washington untuk membuka medan pertempuran baru, terlebih di saat stok amunisi dan kesiapan armada militer mereka mulai terkuras. Trump bahkan mengeklaim bahwa kelompok Houthi telah menghubungi pihak AS untuk menyampaikan bahwa mereka tidak berkeinginan berkonfrontasi dengan Washington.

Klaim sepihak itu sontak memicu reaksi dari milisi sokongan Iran tersebut.

“Kami tidak berkomunikasi dengan Trump dan kami juga tidak meminta dia untuk tidak menyerang kami,” tegas Pejabat Politik Houthi, Mohammed al-Bukhaiti.

Hilangnya jaminan keamanan dari sekutu utama ini menempatkan Arab Saudi dalam dilema besar. Kerajaan enggan berhadapan dengan Houthi sendirian karena masih dibayangi trauma kampanye militer tahun 2015 yang justru menyeret mereka ke dalam kubangan perang panjang selama sembilan tahun.

“Alasan negara seperti Arab Saudi berinvestasi besar-besaran dalam mengembangkan kemitraan keamanan dengan AS adalah untuk mengantisipasi kemungkinan seperti ini,” tutur Ratney.

“Menghadapi kondisi ini membutuhkan dukungan internasional, bukan hanya dari Arab Saudi,” tambahnya.

Pos terkait