INFONANGGROE.COM – Kabar gembira datang dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang akhirnya resmi membuka Program Studi Profesi Dokter untuk Tahun Akademik 2026/2027. Namun, di balik antusiasme pembukaan program studi unggulan baru ini, para calon mahasiswa dan orang tua tampaknya harus menarik napas panjang dan mulai menghitung kesiapan finansial. Pasalnya, biaya untuk menjadi dokter dari kampus kebanggaan Aceh ini menyentuh angka ratusan juta rupiah sejak hari pertama perkuliahan.
Dikutip dari infoaceh, calon mahasiswa Kedokteran UIN Ar-Raniry akan dikenakan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) atau uang pangkal sebesar Rp150 juta. Angka ini belum termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dipatok sebesar Rp37.511.000 per semester.
Artinya, mahasiswa yang dinyatakan lolos seleksi harus menyiapkan dana awal sekitar Rp187,5 juta. Biaya tersebut baru mencakup komponen wajib di awal masa perkuliahan, di luar kebutuhan pendidikan dan biaya hidup lainnya. Meski tergolong fantastis, pihak UIN Ar-Raniry memberikan sedikit kelonggaran melalui skema cicilan, di mana uang pangkal Rp150 juta tersebut dapat diangsur sebanyak tiga kali.
Jadwal Pendaftaran dan Seleksi
Bagi masyarakat yang berminat, penerimaan mahasiswa angkatan perdana ini dilakukan melalui jalur seleksi lokal dengan jadwal sebagai berikut:
- Pendaftaran Daring: 3–10 September 2026 melalui portal PMB UIN Ar-Raniry.
- Ujian Seleksi (CBT & Tes Buta Warna): 12–14 September 2026.
- Pengumuman Hasil: 15 September 2026.
Fokus Akademik dan Dukungan Fasilitas
Pembukaan Fakultas Kedokteran ini merupakan lompatan besar UIN Ar-Raniry dalam mengembangkan sektor kesehatan di Aceh. Program studi ini dirancang dengan fokus spesifik pada pencegahan penyakit infeksi dan penanganan masalah stunting, khususnya pada periode krusial 1.000 hari pertama kehidupan anak.
Pengembangan ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Aceh berupa hibah lahan seluas 30 hektare yang diproyeksikan untuk pembangunan rumah sakit pendidikan. Kehadiran fakultas ini tidak hanya menambah pilihan institusi pendidikan dokter di Aceh, tetapi juga membawa misi khusus: melahirkan tenaga medis yang profesional sekaligus berpegang teguh pada nilai-nilai keislaman.
Kendati demikian, sorotan utama tetap bertumpu pada besarnya biaya investasi pendidikan. Jika seorang mahasiswa menyelesaikan pendidikan sarjana dalam waktu normal delapan semester, total UKT yang harus dibayar mencapai lebih dari Rp300 juta. Jika ditambah dengan uang pangkal, angkanya menembus Rp450 juta.
Tingginya biaya ini tentu menjadi ujian sekaligus tantangan bagi UIN Ar-Raniry. Kampus kini dituntut untuk membuktikan bahwa dana ratusan juta yang dikeluarkan mahasiswa berbanding lurus dengan kualitas fasilitas, kompetensi tenaga pengajar, layanan akademik, serta mutu lulusan dokter yang nantinya diterjunkan ke masyarakat.






