INFONANGGROE.COM – Kepolisian Resor (Polres) Landak telah menerjunkan tiga tim khusus untuk menyisir sejumlah titik di Desa Angkanyar, Kecamatan Kuala Behe, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Langkah ini merupakan bagian dari penyelidikan mendalam atas kasus tragis penemuan jasad seorang ibu dan anak balitanya di kawasan hutan setempat.
Korban bernama Asniwati (39) dan anaknya yang berinisial DN (4) ditemukan dalam keadaan tak bernyawa pada Jumat (7/8/2026) malam. Pihak keluarga menyampaikan bahwa petugas kepolisian terus bersiaga di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) meski prosesi pemakaman telah dilangsungkan.
“Hari ini memang masih proses pemakaman, tetapi tim dari kepolisian masih terus siaga di sekitar lokasi kejadian. Rencananya, tim akan dipecah menjadi tiga kelompok untuk menyisir beberapa wilayah desa,” ungkap perwakilan keluarga korban, Cahyatanus, dikutip dari kompas.
Kondisi Terikat dan Harta Benda Raib Penemuan mengerikan ini bermula ketika warga melaporkan adanya orang hilang. Dalam pencarian tersebut, sang balita, DN, ditemukan lebih dulu dalam keadaan tubuh terikat. Jasad Asniwati kemudian ditemukan sekitar 20 meter dari lokasi anaknya dengan kondisi serupa.
Kepala Desa Angkanyar, Anton, menduga tali yang mengikat tangan, kaki, hingga leher kedua korban adalah potongan karet ban dalam. Dugaan tindak kekerasan ini semakin menguat setelah Kasat Reskrim Polres Landak, AKP Kuswiyanto, membenarkan adanya luka dan bekas jeratan di bagian leher berdasarkan hasil visum di RSUD Landak.
Selain nyawa yang melayang, harta benda yang dibawa korban juga turut raib. Kepolisian mencatat uang tunai senilai Rp 135 juta dan perhiasan emas seberat 30 gram hilang. Fakta ini memicu dugaan kuat bahwa kedua korban menjadi sasaran perampokan yang berujung pada pembunuhan sadis. Kendati demikian, Kapolsek Kuala Behe, Iptu Handoko Warih, menegaskan bahwa motif pasti dan identitas pelaku masih dalam proses pendalaman oleh Sat Reskrim Polres Landak.
Keluarga Percayakan Kasus kepada Pihak Berwajib Setelah proses autopsi rampung pada Sabtu (8/8/2026) malam, jenazah ibu dan anak tersebut langsung dibawa pulang untuk dikebumikan keesokan harinya, Minggu (9/8/2026).
Di tengah rasa duka, keluarga korban memilih untuk menyerahkan sepenuhnya pengusutan kasus ini kepada kepolisian. Cahyatanus mengimbau masyarakat luas untuk tidak berspekulasi, menyebarkan rumor yang belum terbukti, atau melakukan tindakan main hakim sendiri. Warga yang memiliki informasi sekecil apa pun diminta untuk segera melapor kepada petugas.
Pesan serupa turut disampaikan oleh Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Landak, Heri Saman. Ia meminta seluruh masyarakat tetap tenang dan memberikan ruang bagi aparat penegak hukum untuk memburu dan mengungkap dalang di balik tragedi berdarah ini.






