BANDA ACEH, INFONANGGROE.COM – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Abulyatama (Unaya), Muhammad Fajar, mengajak seluruh mahasiswa untuk kembali meneguhkan arah perjuangan di tengah derasnya arus informasi yang kian tidak menentu. Ia menyoroti banyaknya narasi yang sengaja dibentuk untuk mengalihkan perhatian mahasiswa dari persoalan substansial.
“Hari ini, kita hidup dalam situasi di mana isu datang silih berganti tanpa arah yang jelas. Banyak narasi yang sengaja dibentuk untuk mengalihkan perhatian kita dari persoalan yang sesungguhnya lebih penting,” ujar Fajar dalam keterangannya, Selasa, 31 Maret 2026.
Fajar menilai, tanpa disadari banyak mahasiswa yang ikut larut dalam arus tersebut dan terjebak membahas hal-hal non-substansial. Akibatnya, isu strategis yang menyangkut kepentingan rakyat justru terabaikan. Sebagai insan intelektual, ia menuntut mahasiswa untuk memiliki kepekaan yang lebih tajam dalam memilah isu.
“Kita tidak cukup hanya menjadi pengamat, tetapi harus mampu mengkaji, memilah, dan menentukan mana isu yang benar-benar layak untuk diperjuangkan. Jangan sampai energi, pikiran, dan gerakan kita habis untuk hal-hal yang tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Selain tantangan pengalihan isu, Fajar juga menyoroti adanya ujian integritas yang dihadapi gerakan mahasiswa saat ini. Ia mensinyalir adanya upaya-upaya untuk meredam suara kritis mahasiswa melalui berbagai tekanan hingga godaan materi.
Ia pun memberikan peringatan keras kepada rekan-rekannya agar tidak menukar idealisme dengan kepentingan sesaat. “Saya tegaskan dengan jelas: jangan pernah menjual idealisme, jangan pernah menukar keberanian dengan kepentingan sesaat, dan jangan pernah diam hanya karena ‘duit receh’ yang mencoba membungkam suara kebenaran,” kata Fajar menegaskan.
Menurutnya, jika mahasiswa sudah bisa “dibeli”, maka peran mereka sebagai kontrol sosial akan runtuh. Mahasiswa harus tetap berdiri sebagai kekuatan moral dan wadah aspirasi rakyat yang sering kali tidak terdengar.
Lebih lanjut, Fajar menjelaskan bahwa sikap kritis mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah adalah bentuk tanggung jawab intelektual, bukan didasari oleh kebencian.
“Mengkritisi bukan berarti membenci, mengawal bukan berarti menjatuhkan. Tetapi itu adalah bentuk tanggung jawab intelektual dan moral yang harus terus dijaga,” ucapnya.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak seluruh mahasiswa untuk memperkuat daya kritis dan menjaga integritas tanpa harus menunggu momentum besar untuk bergerak. Ia berharap mahasiswa kembali pada marwahnya sebagai agen perubahan yang tidak mudah dialihkan maupun dibungkam.
“Sejarah akan mencatat mahasiswa yang tetap berdiri tegak di tengah tekanan, tetap kritis di tengah kebisingan, dan tetap berpihak kepada rakyat di tengah berbagai kepentingan,” pungkas Fajar. ***






