ACEH BESAR — Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan logo Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXV Kabupaten Aceh Besar 2026 menjadi sorotan setelah sejumlah warganet melontarkan kritik di media sosial. Polemik tersebut turut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas desain, proses kreatif, serta ruang bagi desainer grafis lokal untuk berkontribusi dalam kegiatan resmi daerah.
Logo yang beredar menampilkan sejumlah elemen visual, antara lain peta Aceh Besar, kubah dan menara masjid, bulan sabit, serta ilustrasi Al-Qur’an. Dominasi warna hijau dan emas dipadukan dengan efek tiga dimensi untuk memberikan kesan megah dan religius.
Namun, tampilan tersebut menuai beragam tanggapan dari pengguna media sosial. Sejumlah warganet menilai desain logo kurang rapi dan menduga pembuatannya mengandalkan AI. Kritik juga diarahkan pada keputusan menggunakan teknologi tersebut di tengah keberadaan desainer grafis lokal yang dinilai memiliki kemampuan untuk mengerjakan identitas visual kegiatan daerah.
Dalam kolom komentar yang beredar, Salah satu akun menyampaikan sindiran mengenai perjuangan komunitas kreatif di daerah. Komentar lain mempertanyakan alasan penggunaan AI ketika tenaga desain lokal masih tersedia. Sebagian pengguna bahkan meminta agar prompt atau instruksi yang digunakan untuk menghasilkan logo tersebut dibagikan kepada publik.
Perdebatan ini memperlihatkan bahwa persoalan logo tidak hanya berkaitan dengan selera visual, tetapi juga menyentuh isu penghargaan terhadap tenaga kreatif lokal dan transparansi proses produksi karya.
Dari aspek desain, banyaknya ornamen yang ditampilkan menjadi salah satu hal yang dapat dievaluasi. Penggabungan berbagai simbol dalam satu komposisi berpotensi mengurangi fokus visual dan keterbacaan, terutama ketika logo digunakan dalam ukuran kecil atau diaplikasikan pada berbagai media publikasi.
Meski demikian, penggunaan AI tidak serta-merta menunjukkan bahwa sebuah karya memiliki kualitas rendah. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu eksplorasi ide maupun pengembangan konsep visual. Kualitas akhir tetap bergantung pada proses seleksi, penyuntingan, penyempurnaan, dan pertimbangan desain yang dilakukan.
Di sisi lain, polemik ini menjadi momentum untuk membahas bagaimana pemerintah daerah dan penyelenggara kegiatan memberikan ruang partisipasi kepada pelaku industri kreatif setempat. Pelibatan desainer lokal, misalnya melalui sayembara terbuka atau seleksi konsep, dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendorong kompetisi yang sehat sekaligus memperkuat identitas daerah.
Transparansi mengenai proses pemilihan desain juga penting agar masyarakat memahami pertimbangan di balik keputusan yang diambil, termasuk kriteria estetika, kesesuaian identitas lokal, dan kebutuhan penggunaan logo dalam berbagai media.
Hingga informasi ini disusun, belum terdapat keterangan resmi yang dapat dikutip mengenai proses pembuatan logo, pihak yang bertanggung jawab atas desain tersebut, maupun tanggapan penyelenggara terhadap kritik warganet. Karena itu, dugaan penggunaan AI dan persoalan proses seleksi masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait.
Polemik ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara kegiatan sekaligus membuka ruang dialog antara pemerintah, komunitas kreatif, dan masyarakat.
Pada akhirnya, identitas visual MTQ bukan sekadar simbol untuk memeriahkan sebuah acara. Logo juga merepresentasikan nilai, kebanggaan, dan identitas daerah. Karena itu, kualitas karya serta proses yang transparan dan menghargai potensi lokal patut menjadi perhatian bersama. **





