Aceh Utara, INFONANGGROE.com – Sejumlah warga Gampong Meunasah Drang, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, mulai memanfaatkan telepon genggam untuk mendukung kegiatan ekonomi setelah mengikuti pelatihan keterampilan digital.
Perubahan itu terlihat ketika tim peneliti Universitas Almuslim melakukan monitoring di Balai Gampong Meunasah Drang, Minggu (16/8/2026). Monitoring dilakukan sekitar satu bulan setelah pelatihan dalam Program BIMA Diktisaintek Berdampak yang berlangsung pada 29 Juni-4 Juli 2026.
Program bertajuk Pelatihan Keterampilan Digital untuk Pengangguran Terbuka Gampong dalam Mengakses Peluang Ekonomi Online tersebut memberikan keterampilan dasar kepada warga untuk memanfaatkan teknologi digital dalam membuka peluang ekonomi.
Sebagian peserta yang sebelumnya hanya menggunakan telepon genggam untuk berkomunikasi dan mengakses media sosial kini mulai menggunakannya untuk membuat identitas usaha, membuka toko daring, memasarkan produk, hingga mengelola keuangan.
Salah seorang peserta, Cut Asyifa Ramadhani, mengatakan dirinya semula tidak percaya diri untuk memulai usaha secara daring. Ia menganggap bisnis online membutuhkan modal besar dan kemampuan teknologi yang rumit.
“Jujur, awalnya kami malu. Kami pikir jualan online itu harus punya modal besar dan harus pintar bahasa Inggris. Ternyata tidak,” ujar Asyifa.
Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan sejumlah keterampilan dasar yang dapat langsung dipraktikkan, antara lain membuat email bisnis, mendesain logo menggunakan Canva, serta mendaftarkan toko melalui Shopee.
“Dari situ kami baru tahu, ternyata HP yang selama ini kita gunakan untuk media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk mencari penghasilan,” katanya.
Peserta lainnya, Nita Auliza, mengatakan pelatihan tersebut mengubah cara pandangnya terhadap telepon genggam.
“Dulu HP kami cuma untuk menonton TikTok. Sekarang kami tahu HP juga bisa menjadi toko,” ujar Nita.
Menurut Nita, peserta juga belajar memasarkan produk dan berkomunikasi dengan calon pembeli melalui media digital. Sejumlah peserta bahkan mulai mencoba melakukan siaran langsung untuk mempromosikan produk lokal, seperti keripik singkong, kue bhoi, kopi, dan produk lainnya.
Ayunda Saputri, peserta lainnya, mengatakan perubahan yang paling terasa adalah meningkatnya keberanian warga untuk tampil memasarkan produk.
“Awalnya ada ibu-ibu yang malu-malu. Setelah dibimbing, akhirnya berani melakukan live sekitar 15 menit. Bagi kami itu sudah kemajuan besar,” ujar Ayunda.
Selain pemasaran digital, peserta juga mendapat pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan sederhana. Mereka diperkenalkan dengan aplikasi BukuWarung untuk membantu memisahkan uang hasil usaha dari kebutuhan rumah tangga.
“Kami diajarkan memisahkan uang hasil jualan dengan uang dapur. Selama ini memang masih sering tercampur,” katanya.
Bagi peserta, pelatihan selama lima hari tersebut dinilai baru menjadi tahap awal. Mereka berharap pendampingan tetap dilanjutkan agar keterampilan yang telah diperoleh dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.
“Semoga Gampong Meunasah Drang bisa menjadi gampong digital, bukan lagi gampong pengangguran,” ujar salah seorang peserta.
Peserta juga berharap komunikasi melalui grup WhatsApp tetap dipertahankan. Grup tersebut dinilai penting sebagai ruang konsultasi ketika warga menghadapi kendala dalam mengelola toko daring, membuat konten, melakukan siaran langsung, maupun memasarkan produk.
“Harapan kami, pendampingan jangan putus setelah lima hari. Kami masih membutuhkan bimbingan, meskipun melalui grup WhatsApp,” kata peserta.
Monitoring yang dilakukan satu bulan setelah pelatihan menjadi bagian dari evaluasi untuk melihat sejauh mana keterampilan yang diberikan telah diterapkan oleh masyarakat.
Bagi tim peneliti, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan, tetapi juga dari kemampuan warga menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Di Meunasah Drang, perubahan itu mulai terlihat dari pemanfaatan telepon genggam. Perangkat yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk menonton dan bermedia sosial kini mulai digunakan untuk membuat logo usaha, membuka toko daring, mempromosikan produk, melakukan siaran langsung, dan mencatat keuangan.
Warga pun perlahan tidak lagi hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mulai mencoba memanfaatkannya sebagai sarana untuk membangun kegiatan ekonomi.
Bagi mereka, telepon genggam kini bukan sekadar alat untuk menonton, tetapi juga mulai menjadi pintu masuk menuju peluang penghasilan.






