Aceh Besar, INFONANGGROE.com — Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Besar, Drs. Syukri, membuka Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Korps Sukarela (KSR) PMI Aceh Besar di Markas PMI Aceh Besar, Sabtu 19 September 2026.
Pembukaan ditandai dengan apel yang dipimpin langsung oleh Drs. Syukri. Dalam amanatnya, ia mengingatkan para peserta bahwa menjadi anggota KSR bukan sekadar bergabung dalam sebuah organisasi, melainkan memilih jalan pengabdian di bidang kemanusiaan.
“Hari ini, kalian tidak hanya mendaftar sebuah organisasi. Kalian memilih sebuah jalan pengabdian,” kata Syukri.
Ia menekankan bahwa KSR merupakan korps relawan yang memiliki tanggung jawab besar. Menurut dia, seorang relawan PMI harus memiliki niat pengabdian, sikap yang sesuai dengan prinsip-prinsip kepalangmerahan, serta kesiapan menghadapi berbagai situasi di lapangan.
“KSR itu korps, bukan sembarangan,” ujarnya.
Syukri mengatakan, menjadi relawan KSR bukan untuk mencari popularitas maupun imbalan. Pengabdian relawan, kata dia, harus dilandasi semangat kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan peserta agar memahami dan mengamalkan tujuh Prinsip Dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, yakni kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, dan kesemestaan.
“Begitu kalian memakai seragam dengan lambang PMI ini, kalian memikul tujuh prinsip dasar. Itu bukan hiasan, tetapi napas kita,” kata Syukri.
Disiplin dan ketahanan mental
Dalam amanatnya, Syukri meminta peserta menjadikan disiplin sebagai bagian penting dari pembentukan karakter relawan.
Menurut dia, disiplin mencakup ketepatan waktu, kerapian seragam hingga kepatuhan terhadap komando. Hal tersebut diperlukan karena relawan akan bekerja dalam situasi yang membutuhkan koordinasi dan respons cepat.
Ia juga meminta peserta mempersiapkan mental selama mengikuti Diklatsar. Pendidikan dasar, kata dia, tidak hanya menguji kemampuan fisik, tetapi juga kesiapan menghadapi tekanan dan kondisi yang tidak nyaman.
“Lelah, kurang tidur, hujan, itu adalah simulasi. Karena bencana tidak pernah datang di saat kita siap,” ujarnya.
Karena itu, Syukri mengingatkan peserta agar tetap menjaga kesehatan selama mengikuti pendidikan.
Selain disiplin dan ketahanan mental, ia menekankan pentingnya kebersamaan di antara anggota KSR. Menurut dia, KSR harus dibangun sebagai satu korps yang saling mendukung.
“Di KSR, kita adalah satu korps. Tidak ada senioritas yang menindas, tidak ada junior yang lemah. Yang ada adalah saudara kemanusiaan,” katanya.
Pelatih diminta membentuk relawan tangguh
Kepada para pelatih, Syukri meminta agar proses pendidikan dilakukan secara tegas sekaligus tetap mengedepankan pembinaan.
“Bina mereka dengan keras, tetapi dengan hati. Lahirkan relawan yang tangguh, bukan yang sekadar lulus,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia yang telah mempersiapkan pelaksanaan Diklatsar KSR PMI Aceh Besar.
Syukri mengaku semula membayangkan pendidikan relawan hanya berlangsung dalam ruangan dengan kegiatan yang relatif sederhana. Namun, setelah melihat rangkaian kegiatan yang disiapkan panitia, ia menilai Diklatsar memberikan pengalaman yang lebih luas bagi peserta.
“Terima kasih kepada panitia yang telah menyiapkan kegiatan seperti ini. Saya tidak menyangka bahwa kegiatan diklat seperti ini. Saya pikir hanya di dalam ruangan atau sambil duduk-duduk saja,” katanya.
Ia berharap seluruh peserta mengikuti seluruh tahapan pendidikan dengan serius dan menjadikan Diklatsar sebagai bekal untuk menjalankan tugas-tugas kemanusiaan di tengah masyarakat.
“Selamat mengikuti Diklatsar. Buktikan bahwa kalian layak menyandang nama KSR. Buktikan bahwa kalian adalah korps yang tidak sembarangan, karena kalian adalah garda terdepan kemanusiaan,” kata Syukri.






