Aceh Merdeka Bagi Orang Gayo: Antara Identitas Gayo dan Nasionalisme Aceh

Opini Naggroe, INFONANGGROE.com –

Keterangan foto doc: Dalam Buku Murizal Hamzah, Hasan Tiro Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, 2014

Membicarakan Aceh Merdeka dari dataran tinggi Gayo tidak cukup hanya dengan menyebut nama Perdana Menteri Aceh Merdeka 1980-1982 Reje Linge XIX Sri Alam Teungku Haji Ilyas Leube. Ia memang salah satu figur penting, tetapi sejarah Aceh Merdeka di Gayo jauh lebih luas daripada seorang tokoh. Ada gagasan, jaringan ulama, tokoh masyarakat, struktur perjuangan, serta generasi pejuang yang kemudian meneruskan perjuangan tersebut dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di wilayah Linge-Gayo.

Bacaan Lainnya

Foto yang menjadi perhatian menarik untuk dibaca dalam konteks ini. Keterangan foto dalam buku Murizal Hamzah, Hasan Tiro: Jalan Panjang Menuju Damai Aceh, menyebut “Konsep GAM di Gayo: Hasan Tiro bersama tokoh Gayo mempersiapkan konsep Aceh Merdeka, 1975.” Artinya, Gayo bukan sekadar wilayah yang kemudian menerima pengaruh GAM, tetapi pernah menjadi salah satu ruang penting bagi pembentukan jaringan dan pembicaraan mengenai konsep Aceh Merdeka.

Lalu, bagaimana sebenarnya Aceh Merdeka dipahami oleh orang Gayo?

Menurut Avicenna Al Maududdy dkk dalam artikel yang di publikasikan oleh Jurnal Adabiya UIN Ar-Raniry 2024 berjudul Islam dan Etnonasionalisme Teungku Hasan Muhammad di Tiro untuk Perjuangan Aceh Merdeka 1976–1998, Hasan Tiro membangun identitas Aceh melalui sejarah, kebudayaan, Islam, dan nasionalisme etnis. Mereka menyebut bahwa Hasan Tiro “merekonstruksi identitas Aceh atas dasar nasionalisme etnis.”

Konsep tersebut penting untuk memahami mengapa gagasan Aceh Merdeka dapat diterima oleh sebagian masyarakat Gayo. Hasan Tiro tidak semata-mata menawarkan sebuah agenda politik, tetapi juga menawarkan cara membaca kembali sejarah: bahwa Aceh mempunyai pengalaman sebagai kerajaan, bangsa, masyarakat Islam, serta komunitas politik yang memiliki sejarah panjang sebelum lahirnya Republik Indonesia. Dalam konstruksi itu, Gayo tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang berada di luar Aceh, tetapi sebagai bagian dari sejarah politik Aceh yang memiliki identitas lokalnya sendiri.

Di sinilah letak persoalan yang menarik. Menjadi Gayo tidak harus berarti menolak menjadi bagian dari Aceh. Sebaliknya, identitas Gayo dapat menjadi pintu masuk bagi keterlibatan dalam nasionalisme Aceh. Perjalanan sejarah Ilyas Leube memperlihatkan kenyataan tersebut. Ia membawa identitas Reje Linge–Gayo XIX, tetapi pada saat yang sama mengambil posisi dalam perjuangan Aceh Merdeka dalam cabinet Menteri Aceh Merdeka sebagai Menteri Kehakiman dan wakil Perdana Menteri 1976-1980 dan Perdana Menteri Aceh Merdeka ke-2 1980-1982. Kajian mengenai dirinya menunjukkan bahwa identitas Gayo dan Aceh tidak selalu berada dalam posisi berlawanan.

Kesaksian Hasan Tiro dalam The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan di Tiro bahkan menggambarkan Ilyas Leube sebagai seorang “revolusioner sejati” dan pelaku sejarah yang telah bersamanya sejak awal perjuangan. Namun, membaca sejarah Gayo tidak boleh hanya berhenti pada Ilyas Leube.

Generasi berikutnya menunjukkan bahwa gagasan tersebut berkembang menjadi struktur perjuangan yang lebih luas. Dalam GAM Wilayah Linge, muncul nama-nama seperti Teungku Ilham Ilyas Leube, Yusra Habib Abdul Ghani (Duta Besar Aceh Merdeka di Malaysia dan aktivis GAM di Skandinavia), Fauzan Azima, Halidin Gayo, Ibnu Sakdan, Iklil Ilyas Leube, dan tokoh-tokoh lainnya. Sumber mengenai GAM Linge mencatat bahwa pada awal 2000-an Fauzan Azima menjalankan tugasnya menghubungi tokoh-tokoh Gayo untuk membangun dukungan terhadap perjuangan Aceh Merdeka.

Bahkan, dokumentasi mengenai GAM Linge memperlihatkan adanya struktur kepemimpinan yang tidak hanya bersifat simbolik. Fauzan Azima tercatat pernah menjadi Wakil Panglima sekaligus juru bicara GAM Wilayah Linge, kemudian menjadi Panglima; Halidin Gayo tercatat sebagai Wakil Panglima. Ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang Gayo dalam Aceh Merdeka bukan sekadar dukungan individual, tetapi berkembang menjadi organisasi dan jaringan perjuangan di wilayahnya sendiri.

Menariknya, pengalaman tersebut juga memperlihatkan dinamika internal identitas. Pada satu sisi, para pejuang Gayo mengangkat gagasan Aceh Merdeka; pada sisi lain, mereka tetap membawa identitas Gayo sebagai bagian penting dari diri mereka. Karena itu, bagi sebagian pejuang Gayo, Aceh Merdeka dapat dibaca sebagai gagasan tentang kedaulatan Aceh tanpa harus menghapus identitas lokal Gayo.

Penelitian Avicenna Al Maududdy dalam tesis nya yang dipublikasikan di digital Library (digilib) UIN Sunan KalijagaYogyakarta, berjudul Pemikiran Nasionalisme Tengku Hasan M. di Tiro 1965–2005 memperlihatkan bahwa nasionalisme Aceh Hasan Tiro tidak muncul secara tiba-tiba pada 1976. Salah satu kesimpulannya menyebut bahwa “pemikiran ini telah tercetus sejak tahun 1965.” Akar gagasan tersebut berkaitan dengan persoalan ekonomi, politik, identitas, aspirasi, ideologi, kekecewaan, ambisi, dan kepentingan.

Jika kerangka tersebut digunakan untuk membaca pejuangdari Gayo, maka keterlibatan orang Gayo dalam Aceh Merdeka tidak tepat dijelaskan hanya dengan faktor hubungan personal dengan Hasan Tiro atau pengaruh seorang tokoh. Ada proses yang lebih panjang: sejarah lokal Gayo, hubungan ulama, pengalaman politik Aceh, memori perjuangan bersamasejak perang kolonial Belandsa di Aceh, dan pencarian posisi masyarakat Gayo dalam identitas bangsa Aceh.

Karena itu, pertanyaan sejarahnya bukan sekadar “siapa orang Gayo yang bergabung dengan GAM?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Mengapa sebagian orang Gayo melihat Aceh Merdeka sebagai bagian dari perjuangan mereka?”

Jawabannya terletak pada pertemuan dua kesadaran: kesadaran sebagai orang Gayo dan kesadaran sebagai bagian dari bangsa Aceh. Sejarah Linge, perjuangan ulama, jaringan masyarakat, hingga GAM Wilayah Linge menunjukkan bahwa keduanya pernah berjalan bersamaan.

Namun, sejarah juga harus dibaca secara kritis. Keterlibatan sebagian orang Gayo dalam Aceh Merdeka tidak boleh digeneralisasi sebagai sikap seluruh masyarakat Gayo. Gayo adalah masyarakat yang beragam, sebagaimana Aceh sendiri. Karena itu, sejarah harus membedakan antara orang Gayo sebagai identitas etnokultural dan orang-orang Gayo yang memilih terlibat dalam perjuangan Aceh Merdeka.

Pada akhirnya, Aceh Merdeka bagi orang Gayo bukan sekadar cerita tentang perjuangan senjata dalam rimba. Ia adalah sejarah tentang bagaimana identitas lokal bernegosiasi dengan identitas yang lebih luas. Dari Linge hingga GAM Wilayah Gayo, sejarah tersebut memperlihatkan bahwa menjadi Gayo dan memperjuangkan Aceh pernah berjalan dalam satu ruang sejarah yang sama.

Dan mungkin, inilah bagian sejarah Gayo yang perlu terus ditulis: bukan untuk menghidupkan kembali konflik, tetapi untuk memahami mengapa orang-orang Gayo pernah memilih berdiri di dalam sejarah Aceh Merdeka.

Hingga pada akhirnya, generasi Gayo dan Aceh pesisir hariini tidak lagi perlu mewarisi perbedaan sebagai alasan untuk berselisih. Yang harus diwariskan adalah persatuan, sejarah, ilmu pengetahuan, adat, Islam, dan perdamaian. Sebab, bangsa Aceh akan kuat bukan ketika semua menjadi sama, melainkan ketika semua identitas dapat berdiri bersama sebagai satu bangsa Aceh yang saling menghormati.

Penulis: Teuku Avicenna Al Maududdy, M.Hum.
Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI)Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh

Pos terkait