Banda Aceh, INFONANGGROE.com – Tgk H Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) kembali terpilih kembali sebagai Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh dan Tgk H Faisal Ali MPd atau Lem Faisal sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh masa khidmat 2026 – 2031. Senin, 16 Februari 2026.
Lem Faisal terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) XV PWNU Aceh, Sidang Konferwil dipimpin Bendahara PBNU Korwil Sumut Aceh, Faisal Ali Hasyim sebagai Ketua sidang, dan Drs H Azhari MSi sebagai sekretaris. Kegiatan ini mengusung tema “Melalui Konferwil NU Aceh ke-XV Membangun Kesadaran Ekologis Umat” dan dilaksanakan di Aula Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.
Konferwil XV dibuka oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya.
Ketua Umum PBNU itu juga menyampaikan refleksi kebangsaan sekaligus pesan spiritual jelang Ramadhan 1447H, momentum tersebut bertepatan dengan hari kelahirannya.
“Saya benar lupa, hari ini milad kelahiran saya sudah berusia 60 tahun, karena kesibukan berbagai kegiatan, tapi justru di ingat oleh nadhliyin di Aceh. Keberkahan juga di bumi Aceh karena mendapat doa dari para guru, Tengku dan ulama Aceh” Ucapnya.
Gus Yahya juga mengapresiasi dan terima kasih kepada seluruh pengurus PWNU Aceh, terutama dalam lima tahun terakhir masa kepemimpinan Tgk H Nuruzzahri Yahya (Waled Nu) sebagai Rais Syuriyah dan Tgk H Faisal Ali sebagai Ketua Tanfidziyah.
“Suasana sangat sejuk bagi warga Nahdlatul Ulama Aceh. Keberadaan ulama juga sangat diapresiasi oleh masyarakat, terbukti para ulama mendapat kehormatan memimpin lembaga-lembaga yang luas di Aceh,” ujar Gus Yahya.
Sementara Lem Faisal mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah hadir dan ikut menyukseskan Konferwil ke-15 NU Aceh. Ia mengungkapkan akan menjalankan amanah warga Nahdliyin Aceh untuk membesarkan NU di Bumi Serambi Mekkah ini.
“Ketua hanya koordinator saja, sedangkan organisasi NU ini adalah milik seluruh masyarakat Aceh, terutama warga Nahdliyin, makanya kita wujudkan silaturrahmi dan program organisasi se Aceh, di dukung oleh ketua-ketua PCNU Kabupaten kota,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terdapat dua poin penting dalam Konferwil XV ini, yakni pelaksanaan bahtsul masail (musyawarah ilmiah).
“Pertama, tema pemanfaatan kayu atau barang-barang yang dibawa banjir bandang, dimana Aceh baru saja mengalami musibah banjir dan longsor, Kedua, bagaimana ekologis dalam prinsip keislaman. Kedua tema ini beririsan dengan banjir yang terjadi,” ujarnya.
Ia mengatakan, hasil pembahasan dan rekomendasi akan menjadi pegangan bagi masyarakat dalam menyikapi persoalan yang ada sesuai dengan hukum agama.
“Masyarakat muslim tidak mau melakukan apa pun yang tidak sejalan dengan agama kita. Jadi hasil bahtsul masail ini menjadi pegangan bagi siapa pun yang terlibat,” pungkasnya.
Ketua Panitia Konferwil, Tgk H Amirullah Djakfar, berterimakasih kepada seluruh panitia yang menyukseskan kegiatan dengan lancar. Ia mngatakan bahwa konferensi lima tahunan ini merupakan forum strategis merumuskan arah perjuangan organisasi lima tahun ke depan, terutama terkait kesadaran ekologis.






