Wasekjen, IPMD: Pembeliaan Pesawat N219 Bukan Hal urgent Bagi Pemerintah Aceh

  • Whatsapp

Aceh Besar, INFONANGGROE.com – Wasekjen Ikatan Pemuda Mahasiswa Darussalam (IPMD) Ma’roef Ikhsan menanggapi terkait rencana Pelaksana Tugas (PLT) Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk membeli 4 unit pesawat N219.

Ma’roef secara tegas menolak terkait pengadaan pesawat tersebut dikarenakan bukan program prioritas dan tidak tercantum didalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

“Kalau sesuatu yang direncanakan diluar RPJM, inikan usulan dadakan, Ini yang kita sebut selesaikan dulu yang wajib baru kita pikirkan yang sunat-sunat begitu” jelasnya di Energy Cafe Meunasah Manyet, Ingin Jaya, Aceh Besar. Rabu 18 Desember 2019.

Menurut Ma’roef, masih banyak hal lain yang harus lebih dulu Pemerintah Aceh prioritaskan seperti menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran, juga meningkatkan berbagai pelayanan kepada masyarakat seperti kesehatan dan pendidikan.

“Angka kemiskinan kita masih tinggi, pengangguran juga masih banyak, daya beli masyarakat juga masih rendah, angka putus sekolah juga masih ada, Aceh 17 persen loh stunting. Nah, kenapa Gubernur bersama SKPD tidak fokus untuk hal-hal yang pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat,” tegasnya.

Ia mempertanyakan terkait siapa penerima manfaat akan pengadaan pesawat tersebut. Menurutnya Pemerintah Aceh kurang efektif jika pesawat itu digunakan untuk moda transportasi udara seperti ambulance dan konektivitas antar kabupaten/kota dikarenakan tidak semua daerah di Aceh punya bandara. Terlebih saat ini sedang dibangun rumah sakit regional di pantai timur pantai barat dan tengah.

“Kalau nanti pesawat digunakan untuk kunjungan kerja pejabat, mobilnya juga dibeli. Ini adalah nurani yang tergadaikan, dan saya hanya melihat di rezim ini sepertinya chit awak peu abeh peng naggro, asai prut droe katro abeh peukara,” jelasnya.

Padahal tahun 2018, DPR Aceh baru saja menggelontorkan dana untuk perbaikan empat pesawat hibah dari Yayasan Leuser Internasional (YLI) senilai Rp.1,5 miliar, namun hingga saat ini belum dapat difungsikan. Harusnya pemerintah mengoptimalkan pesawat yang sudah ada.

“Fungsi perencaan kita di pemerintah Aceh ini sanggupnya beli bangun, beli bangun. Bisa beli, bisa bangun gak bisa rawat, ini persoalannya,” sebut Ma’roef.

Ma’roef menduka ada campur tangan makelar atas pengadaan empat pesawat tersebut.

“Saya mengkhawatirkan jangan-jangan pemerintah ini bertemu dengan makelar, makelar yang kemudian unjuk-unjuk beli (pesawat-red) tanpa melihat kajian dasar apa yang mengharuskan kita untuk beli ini,” pungkasnya.

Oleh sebab itu, ia menegaskan Mahasiswa Darussalam menolak secara tegas pengadaan tersebut karena tidak sesuai kebutuhan yang ada dilapangan.

“Apakah kemudian tageline Aceh Hebat itu dengan beli pesawat, hebatnya bukan disitu, hebatnya ketika masyarakat Aceh mangat tegeut, prut troe, asoe balum beu punoh, itu baru hebat.”

Aliexpress WW
Rubrik       : Tak Berkategori