Pengawas Sekolah/Madrasah Dan Fungsinya Dalam Meningkatkan Kompetensi Guru Melaksanakan Tugas Keprofesionalan Menuju Era Revolusi Industri 4.0

  • Whatsapp

Oleh : Ratna Zaidah (Pengawas Madrasah Di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar)

Pendahuluan

Dunia saat ini tidak dapat dipisahkan dengan tehnologi, terlebih dalam bidang ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk menciptakan para pendidik yang hebat harus dibarengi pula oleh peningkatan kompetensinya, terlebih di era revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 adalah suatu era yang memandang teknologi informasi menjadi basis dalam kehidupan manusia. Revolusi ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. (Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World economic Forum, The Fourth Industrial Revolution). Oleh karena itu sistem pendidikan nasional dihadapkan pada tantangan yang sangat kompleks dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), oleh karena itu kehadiran guru pengembang teknologi pembelajaran menuju era revolusi industri 4.0 sangat dibutuhkan, karena dalam peningkatan mutu pendidikan setiap sekolah/madrasah harus mampu menciptakan inovasi yang positif baik dibidang kurikulum serta sarana dan prasarana pendidikan yang memiliki Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Guru adalah bagian integral dari organisasi pembelajar di sekolah. Sebuah organisasi, termasuk organisasi pembelajar di sekolah perlu dikembangkan agar mampu menghadapi perubahan dan ketidakpastian yang merupakan ciri kehidupan modern di era revolusi industri 4.0. Salah satu karakter utama organisasi pembelajar adalah senantiasa mencermati perubahan internal dan eksternal yang diikuti dengan upaya penyesuaian diri dalam rangka mempertahankan eksistensinya. Menurut Undang – undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Sedangkan kompetensi adalah  seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Menurut Finch & Crunkilton, (1992:220) menyatakan “Competencies are those talks, skills, attitudes, values, and appreciation that are deemed critical to successful employment”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kompetensi meliputi tugas, keterampilan, sikap, nilai, apresiasi diberikan dalam rangka keberhasilan hidup/penghasilan hidup. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan penerapan dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja.

Kompetensi guru terkait dengan kewenangan melaksanakan tugasnya, dalam hal ini dalam menggunakan bidang studi sebagai bahan pembelajaran yang berperan sebagai alat pendidikan, dan kompetensi pedagogis yang berkaitan dengan fungsi guru dalam memperhatikan perilaku peserta didik belajar (Djohor, 206: 130).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan – kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugas keprofesionalnnya. Kemampuan dalam arti yang umum dapat diartikan sebagai perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. (Danim, Sudarwan dalam Transformasi Sumber Daya Manusia). Sedangkan dalam konteks keguruan, kemampuan tersebut diterjemahkan sebagai gambaran hakekat kualitatif dari perilaku guru yang nampak sangat berarti. (Wijaya, H. Es dan Trabani Rusyan, 1992 dalam Profesionalisme Tenaga Kependidikan). Dengan demikian, suatu kemampuan dalam suatu profesi yang berbeda menuntut kemampuan yang berbeda-beda pula. Sedangkan kemampuan dalam profesi keguruan akan dicerminkan pada kemampuan pengalaman dari kompetensi keguruan itu sendiri.

Apabila disimak makna yang tertuang dalam kaidah kemampuan tersebut, maka setiap profesi yang diemban seseorang harus disertai dengan kemampuan, dimana profesi itu sendiri dibatasi sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut didalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimpelemntasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. (Sudirman, AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar).

Profesi keguruan, kriteria yang dipergunakan untuk menjembataninya sebagai sebuah profesi secara umum yaitu; jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual, jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus; jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama; jabatan yang memerlukan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan; jabatan yang menjanjikan karier hdup dan keanggotaan yang permanen; jabatan yang menentukan standarnya sendiri; jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi; jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

Secara khusus, profesi keguruan bercirikan dengan hal – hal berikut, yaitu; memiliki spesialisasi dengan latar belakang teori yang luas, maksudnya: (a) Memiliki pengetahuan umum yang luas, (b) Memiliki keahlian khusus yang mendalam; merupakan karier yang dibina secara organisatoris, maksudnya (a) Adanya keterikatan dalam suatu organisasi profesional, (b) Mendapat pengesahan dan perlindungan hukum, (c) Memiliki persyaratan kerja yang sehat, (d) Memiliki jaminan hidup yang layak. ((Sudirman, AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar).

Idealnya profesi keguruan bukan hanya sekedar untuk mengisi lowongan pekerjaan, tidak juga semata-mata untuk menentukan prestise, tetapi profesi keguruan harus dapat ditempatkan sebagai sebuah profesi kemanusiaan yang dilandasi oleh panggilan hati nurani denagn dasar-dasar kemampuan yang seharusnya dimiliki untuk melaksanakannya. Profesi keguruan merupakan sebuah profesi yang strategis untuk membawa angin kemajuan pada semua aspek nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, guru tidak hanya sekedar berfungsi menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih-lebih ia adalah pendidik yang bertugas mentransfer dan mengembangkan nilai-nilai kemasyarakatan, sehingga dengan demikian tugas-tugas keguruan menuntut kemampuan yang majemuk dalam proses pendidikan, sehingga kemajuan ilmu pengetahuan, kecanggihan teknologi dan dinamika seni yang telah dicapai sekarang ini belum mampu menggantikan kehadiran seorang guru dalam proses belajar mengajar.    

Mengingat pentingnya kehadiran seorang guru pada proses pendidikan, maka kemampuan – kemampuan yang seharusnya dimiliki sebagai pondasi profesinya adalah tonggak awal bagi keberhasilannya dalam menjalankan tugasnya.

Suparlan (2008:93) menambahkan bahwa standar kompetensi guru dipilah kedalam tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu pengelolaan pembelajaran, pengembangan profesi, dan penguasaan akademik. Standar tersebut telah tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional  Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Pengertian Pengawas

Pengawasan dapat diartikan sebagai proses kegiatan monitoring untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga merupakan kegiatan untuk mengoreksi dan memperbaiki bila ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian tujuan (Robbins dalam Sudjana, 2006:5). Selanjutnya Burhanuddin (2004: 284) mengartikan pengawasan atau supervisi pendidikan tidak lain dari usaha memberikan layanan kepada stakeholder pendidikan, terutama kepada guru – guru, baik secara individu maupun secara kelompok dalam usaha memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran.

Pengawas Sekolah/Madrasah

Kepengawasan dalam istilah lain disebut juga dengan supervisi, menurut Azhari menyebutkan bahwa: “supervisi secara etimologis berasal dari Bahasa Inggris “supervision” yang artinya pengawasan atau kepengawasan. Sedangkan secara morfologis supervisi terdiri dari dua kata Super berarti atas atau lebih danVisi berarti lihat, tilik, awasi (Ahmad Azhari, 2008: 1). Seorang supervisor memang mempunyai posisi di atas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya. Atau setidaknya seorang supervisor harus memiliki pengalaman dan ilmu lebih dibandingkan dengan guru dan kepala sekolah dalam binaaanya. Berhubungan dengan kepengawasan, Sagala mengartikan “pengawas sekolah identik dengan supervisi pendidikan yang mempunyai arti khusus yaitu membantu dan turut serta dalam usaha-usaha perbaikan dan meningkatkan mutu baik personal atau lembaga.”

Pada pengertian di atas Sagala melihat secara detil pada fungsi kepengawasan yaitu membantu lembaga dan personal yang bekerja pada lembaga tersebut supaya melaksanakan tugas sesuai dengan visi dan misi. Untuk mencapai itu semua tentu perlu dilakukan pembinaan dan bimbingan agar mutu personal mampu memenuhi keinginan lembaga tersebut. Dalam kaitan dengan pendidikan tentu tenaga pendidikan dan tenaga kependidikan lainya harus memiliki mutu dan bekerja secara profesional untuk tercapainya visi, misi dan tujuan dari lembaga pendidikan tersebut.

Pengawasan identik dengan supervisi, bila dilihat dari makna kepengawasan yang penulis sebutkan di atas kepengawasan pendidikan dan supervisi pendidikan merupakan satu kesatuan maksud, kepengawasan dan supervisi merupakan usaha membimbing, membina mengarahkan personil atau lembaga sehingga mencapai mutu personil dan lembaga yang diinginkan agar tetap bekerja dalam bingkai prosedur yang telah ditetapkan. Carter (Daryanto) mengartikan bahwa supervisi adalah “usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin dan membimbing guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan-jabatan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan pendidikan, bahanbahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran”.

Dari pengertian diatas, supervisi dimaksud adalah peran dari petugas kepengawasan dalam membimbing pelaku pendidikan seperti guru dan kepala sekolah sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan seperti yang diharapkan.

Jadi, diambil suatu kesimpulan bahwa pengawasan atau supervisi erat kaitannya dengan kegiatan membimbing, membina, memonitoring dan memberi pelayanan dalam membantu guru terhadap kegiatan proses pembelajaran agar tetap berjalan seperti yang diharapkan.

Fungsi Pengawas Sekolah/Madrasah

Kegiatan supervisi (pengawasan) dimanapun jenjang pendidikannya, harus dilakukan oleh seorang atau beberapa orang supervisor (pengawas) yang memiliki kompetensi dibidangnya. Seorang supervisor (pengawas) adalah orang yang diamanatkan untuk mengawasi pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah/madrasah agar memperoleh kepastian bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pelaksana pendidikan tersebut selaras dengan tujuan yang telah ditetapkan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, pengawas sekolah melaksanakan fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial. Supervisi akademik adalah fungsi supervisi yang berkenaan dengan aspek pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan bimbingan di sekolah (Surya Dharma, 2008: 14).

Sasaran supervisi akademik antara lain membantu guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau bimbingan, melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan, menilai proses dan hasil pembelajaran/ bimbingan, memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan pembelajaran/bimbingan, memberikan umpan balik secara tepat dan teratur dan terus menerus pada peserta didik, melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, memberikan bimbingan belajar pada peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, mengembangkan dan memanfaatkan alat Bantu dan media pembelajaran dan atau bimbingan, memanfaatkan sumber-sumber belajar, mengembangkan interaksi pembelajaran/bimbingan (metode, strategi, teknik, model, pendekatan dll.) yang tepat dan berdaya guna, melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran/bimbingan, dan  mengembangkan inovasi pembelajaran/bimbingan.

Dalam melaksanakan fungsi supervisi akademik seperti di atas, pengawas hendaknya berperan sebagai: Mitra guru dalam meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dan bimbingan di sekolah binaannya; inovator dan pelopor dalam mengembangkan inovasi pembelajaran dan bimbingan di sekolah binaannya; konsultan pendidikan di sekolah binaannya; konselor bagi kepala sekolah, guru dan seluruh staf sekolah; serta motivator untuk meningkatkan kinerja semua staf sekolah

Sedangkan supervisi manajerial adalah fungsi supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup: perencanaan, koordinasi, pelaksanaan,  penilaian, serta pengembangan kompetensi SDM kependidikan dan sumber daya lainnya. Sasaran supervisi manajerial adalah membantu kepala sekolah dan staf sekolah lainnya dalam mengelola administrasi pendidikan seperti administrasi kurikulum, administrasi keuangan,  administrasi sarana prasarana/perlengkapan, administrasi personal atau ketenagaan, administrasi kesiswaan,  administrasi hubungan sekolah dan masyarakat,  administrasi budaya dan lingkungan sekolah, serta  aspek-aspek administrasi lainnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

Dalam melaksanakan fungsi supervisi manajerial, pengawas hendaknya berperan sebagai kolaborator dan negosiator       dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, asesor dalam mengidentifikasi kelemahan dan menganalisis potensi sekolah binaannya, pusat informasi pengembangan mutu pendidikan di sekolah binaannya, serta evaluator/judgement terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

Tugas Pokok Pengawas Sekolah/Madrasah

Seperti yang penulis sebutkan diatas melihat kinerja pengawas berarti menilai apakah tugas-tugas kepengawasan sudah terlaksana seperti diharapkan. Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial.

Berdasarkan kedua tugas pokok di atas, menurut Sudjana maka kegiatan yang dilakukan oleh pengawas antara lain:

  1. Menyusun program kerja kepengawasan untuk setiap semester dan setiap tahunnya pada sekolah yang dibinanya.
  2. Melaksanakan penilaian, pengolahan dan analisis data hasil belajar/bimbingan siswa dan kemampuan guru.
  3. Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran/bimbingan, lingkungan sekolah yang berpengaruh terhadap perkembangan hasil belajar/bimbingan siswa.
  4. Melaksanakan analisis komprehensif hasil analisis berbagai faktor sumber daya pendidikan sebagai bahan untuk melakukan inovasi sekolah.
  5. Memberikan arahan, bantuan dan bimbingan kepada guru tentang proses pembelajaran/bimbingan yang bermutu untuk meningkatkan mutu proses dan hasil belajar/ bimbingan siswa.
  6. Melaksanakan penilaian dan monitoring penyelenggaran pendidikan di sekolah binaannya
  7. Menyusun laporan hasil pengawasan di sekolah binaannya dan melaporkannya kepada Dinas Pendidikan, Komite Sekolah dan stakeholder lainnya.
  8. Melaksanakan penilaian hasil pengawasan seluruh sekolah sebagai bahan kajian untuk menetapkan program kepengawasan semester berikutnya.
  9. Memberikan bahan penilaian kepada sekolah dalam rangka akreditasi sekolah.
  10. Memberikan saran dan pertimbangan kepada pihak sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi sekolah berkaitan dengan penyelenggaraan Pendidikan.

Dari uraian diatas, dapat digambarkan dengan jelas bahwa kegiatan – kegiatan tersebut mencerminkan bentuk kerja pengawas yang diwujudkan oleh pengawas dalam bentuk kinerja pengawas meliputi, perencanan program pengawas, pelaksanaan program kerja pengawas, melaksanakan evaluasi, dan pelaporan hasil kerja pengawas, maka kinerja pengawas dapat diidentikkan dengan perwujudan dari tugas-tugas pengawas.

Dalam hal ini, Sudjana menjelaskan bahwa berdasarkan uraian di atas maka kinerja pengawas dapat dijabarkan dalam bentuk tugas-tugas pengawas yang meliputi inspecting (mensupervisi), advising (memberi advis atau nasehat), monitoring (memantau), reporting (membuat laporan), coordinating (mengkoordinir) dan performing leadership dalam arti memimpin dalam melaksanakan kelima tugas pokok tersebut.

Peranan Pengawas Sekolah/Madrasah terhadap Profesional Guru

Peran pengawas sekolah adalah menjaga dan membimbing guru agar tetap berada dalam profesional. Untuk lebih jelas peranan Pengawasan atau Supervisi yang meliputi  supervisi akademik dan supervisi manajerial. Kedua supervisi ini harus dilakukan secara teratur dan berkesinambungan oleh pengawas sekolah/madrasah.

Sasaran supervisi akademik antara lain adalah untuk membantu guru dalam hal merencanakan kegiatan pembelajaran dan atau bimbingan; melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan, melaksanakan kegiatan pembelajaran/bimbingan, memanfaatkan hasil penilaian untuk peningkatan layanan pembelajaran/bimbingan,  memberikan umpan balik secara tepat dan teratur dan terus menerus pada peserta didik, melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, melayani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar,  memberikan bimbingan belajar pada peserta didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan,  mengembangkan dan memanfaatkan alat bantu dan media pembelajaran dan atau bimbingan, memanfaatkan sumber-sumber belajar, mengembangkan interaksi pembelajaran/bimbingan (metode, strategi, teknik, model, pendekatan dan sebagainya) yang tepat dan berdaya guna, melakukan penelitian praktis bagi perbaikan pembelajaran/bimbingan, serta mengembangkan inovasi pembelajaran/bimbingan.

Dalam melaksanakan supervisi akademik, pengawas sekolah/madrasah hendaknya memiliki peranan khusus, yaitu sebagai partner (mitra) guru dalam meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran dan bimbingan di sekolah/madrasah binaannya; inovator dan pelopor dalam mengembangkan inovasi pembelajaran dan bimbingan di sekolah/madrasah binaannya;  konsultan pendidikan dan pembelajaran di sekolah/madrasah binaannya; konselor bagi guru dan seluruh tenaga kependidikan di sekolah/madrasah; dan motivator untuk meningkatkan kinerja guru dan semua tenaga kependidikan di sekolah/madrasah.

Sasaran supervisi manajerial adalah membantu kepala sekolah/madrasah dan tenaga kependidikan di sekolah di bidang administrasi sekolah/madrasah yang meliputi administrasi kurikulum; administrasi keuangan; administrasi sarana prasarana/perlengkapan; administrasi tenaga kependidikan; administrasi kesiswaan; administrasi hubungan/madrasah dan masyarakat, dan  administrasi persuratan dan pengarsipan. (Sahertian, 2000: 28-30)

Menurut Oliva dalam Syaiful (2010: 103) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang dilakukan pengawas sekolah sebagai supervisor untuk membantu guru agar tetap bekerja secara professional yaitu; (a) Membantu guru membuat perencanaan pembelajaran, (b) Membantu guru untuk menyajikan pembelajaran, (c) Membantu guru untuk mengevalusikan pembelajaran, (d) Membantu guru untuk mengelola kelas, (e) Membantu guru dalam mengembangkan kurikulum, (f) Membantu guru dalam mengevaluasi kurikulum, (g) Membantu guru dalam program pelatihan, (h) Membantu guru dalam bekerja sama, (i) Membantu guru dalam mengevaluasi diri.

Dalam membimbing guru seorang pengawas harus memperhatikan prinsip – prinsip supervisi pendidikan, agar kegiatan supervisi yang dilakukan berjalan seperti yang diharapkan dan member manfaat untuk kemajuan guru. Adapun prinsip tersebut adalah ilmiah, demokratis, kooperatif, kontruktif dan kreatif, realistis, progresif, inovatif (Syaiful, 2010). 

Usaha Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Guru

Konsep peningkatan kualitas pendidikan belum mengoptimalkan pada pemberdayaan kinerja guru, yang memiliki peran dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Pemberdayaan tenaga pendidik merupakan perwujudan capacity building yang bernuansa pada pemberdayaan sumber daya manusia tenaga pendidik melalui pengembangan berbagai kemampuan (kinerja) dan tanggung jawab serta suasana sinergis antara pemerintah dalam pengembangan berbagai kemampuan (kinerja) dan tanggungjawab serta suasana sinergis antara pemerintah (government) dengan guru. Upaya optimalisasi kinerja guru yang berkelanjutan merupakan faktor yang penting dibanding faktor lainnya dalam peningkatan kualitas pendidikan. Hal ini telah disadari dan dilakukan oleh pemerintah melalui penugasan studi lanjut, berbagai training dan penataran pada guru. Studi lanjut diperuntukkan bagi guru-guru Sekolah Dasar yang belum memiliki kualifikasi SDM yang menguasai iptek cenderung memanfaatkan teknologinya untuk menguasai SDA.

Menurut Sutaryat (2005: 67) mengatakan bahwa masalah-masalah umum yang dihadapi dalam tugas mengajar dan mendidik mencakup:

  1. Membantu guru dalam menterjemahkan kurikulum kedalam makna sebuah pendidikan.
  2. Membantu guru-guru dalam meningkatkan program belajar mengajar yakni membantu merancang bangun program pembelajaran, membantu dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, serta membantu dalam menilai proses dan hasil belajar mengajar.
  3. Membantu guru dalam menghadapi kesulitan dalam mengajarkan tiap mata pelajaran.
  4. Membantu guru dalam memecahkan masalah- masalah pribadi (personal problem).

Oleh karena itu betapa pentingnya supervisi yang diberikan kepada guru-guru dalam tugas mengajar dan mendidik sampai saat ini masih bersifat umum (general supervision). Usaha meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar, perlu pemahaman ulang. Mengajar tidak sekadar mengkomunikasikan pengetahuan agar diketahui subjek didik, tetapi mengajar harus diartikan menolong si pelajar agar mampu memahami konsep- konsep dan dapat menerapkan konsep, menganalisis, mengevaluasi dan merencanakan. Selain itu guru-guru dimotivasi agar selalu berusaha untuk merancangkan apa yang akan disajikan. Mempersiapkan diri agar tampil dalam mengajar dan menilai dengan tepat serta bertanggung jawab atas tugas mengajarnya. Bantuan yang diberikan dapat berupa merancangkan program belajar mengajar; melaksanakan proses belajar mengajar; menilai proses belajar mengajar; serta mengembangkan manajemen kelas

Sebenarnya kalau kita melihat dilapangan tentang bagaimana guru sekarang dalam hal indikator kinerja serta pembinaan nilai-nilai peningkatan kualitas siswa antara lain: masih ada guru dalam melaksanakan tugas tidak sepenuhnya, dikarenakan dengan beberapa alasan; sibuk, urusan rumah tangga, arisan dan lain-lain. Dengan terbitnya Undang- undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 yang sangat menjanjikan dan memiliki kekuatan hukum yang kuat bahwa guru dan dosen sudah memiliki nilai tambah yang luar biasa maksudnya guru dan dosen dalam melaksanakan tugasnya diatur oleh Undang- undang dan mereka berhak mendapatkan sertifikat pendidik, dengan melalui potofolio dan juga lulus pendidikan dan latihan (PLPG). Cukup banyak para guru yang belum diberikan kesempatan untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan dilingkungan tempat mereka bekerja. Kemudian masih ada diantara mereka belum termotivasi untuk peran serta dalam kegiatan workshop, KKG, MGMP, seminar. Hal ini dikarenakan berbagai macam alasan dan sebagainya.

Simpulan

Pengawasan atau supervisi erat kaitannya dengan kegiatan membimbing, membina, memonitoring dan memberi pelayanan dalam membantu guru terhadap kegiatan proses pembelajaran agar tetap berjalan seperti yang diharapkan. Tugas pokok pengawas sekolah/satuan pendidikan adalah melakukan penilaian dan pembinaan dengan melaksanakan fungsi-fungsi supervisi, baik supervisi akademik maupun supervisi manajerial, mencakup kegiatan inspecting, advising, monitoring, coordinating dan reporting. Guru atau pendidik adalah orang yang bekerja memberi pengajaran kepada seseorang atau anak didik ke arah kedewasaan. Peran pengawas sekolah adalah menjaga dan membimbing guru agar tetap berada dalam professional, meliputi supervisi akademik dan supervisi manajerial.  

Daftar Pustaka

Amin, M Thaib BR dkk. Standar Supervisi dan Evaluasi Pendidikan pada Madrasah Aliyah. Ditmapenda Jakarta, 2005

Azhari, Ahmad. 2008, Supervisi Rencana Program Pembelajaran, Jakarta, Depag

Danim,  Sudarwan, 1994, Transformasi Sumber Daya Manusia    , Bumi Aksara, Jakarta. H 12

Daryanto, H.M., 2008, Administrasi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta

Dharma, Surya. “Peranan dan Fungsi Pengawas Sekolah/Madrasah.Jurnal Tenaga

   Kependidikan. (Jakarta, Depdiknas, 2008)

Sudirman, AM, 1986, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, CV. Rajawali, jakarta, h 131

Rubrik       : Tak Berkategori