Pemerintah Tegas Atau Perempuan Hilang Kualitas

  • Whatsapp

Oleh : Arief Kurniawansyah R

INFONANGGROE.COM – Aceh merupakan daerah pelopor dalam menegakkan Syariat Islam. Meskipun saat ini masih banyak oknum yang tidak bertanggung jawab yang merusak, menolak sampai menghujat Syariat Islam di Aceh ini.

Aceh yang menerapkan hukum syariat Islam, masih sangat rawan terhadap aksi Pelecehan Seksual. Hasil dari investigasi yang dilakukan The Foundation Kita dan Buah Hati. Berdasarkan data di tahun 2015 bahwasanya Aceh menduduki peringkat pertama aksi kejahatan Pelecehan Seksual di Indonesia. Kemudian peringkat selanjutnya disusul Jawa Timur dan ketiga Jawa Barat.

“Untuk kasus Pelecehan Seksual di seluruh Indonesia dari 43 provinsi, Aceh di peringkat pertama, sedangkan Jawa timur posisi kedua dan posisi ketiga Jawa Barat, sedangan Jakarta posisi keempat dan kelima Sumatera Selatan,” kata Executive Director of The Foundation Kita dan Buah Hati, Elly Risman Psi, Sumber : Merdeka.com

Dalam sebuah perjalanan penulis menuju suatu daerah dengan tujuan mengisi tausyiah agama terjadi suatu peristiwa keji yang menganiaya tegaknya Syariah Islam secara kaffah di Tanah Serambi Mekkah ini.

Peristiwa yang terjadi tersebut sangat jelas melanggar Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 Tentang Hukum Jinayat pada bagian keenam terkait Pelecehan Seksual dalam Pasal 46 yang berbunyi “Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan Jarimah Pelecehan Seksual. Diancam dengan ‘Uqubat Ta’zir cambuk paling banyak 45 (empat puluh lima) kali atau denda paling banyak 450 (empat ratus lima puluh) gram emas murni atau penjara paling lama 45 (empat puluh lima) bulan”.

Berawal dari penyataan tegas secara langsung dari seorang mahasiswi yang berininsial MF dimana menjadi korban atas perbuatan keji pada dirinya saat ia sedang tertidur dalam sebuah mobil angkutan umum dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya “Pak sopir apa-apaan ini, saya paling tidak suka di pegang-pegang seperti ini, tolong pindahkan saya atau pindahkan mereka (pelaku) jangan disini”, Tegas MF.

“Susah memang kita duduk bersamaan dengan orang yang tidak punya Iman” Lanjut MF dengan penuh kesal.

Peristiwa seperti ini bukan hanya pada waktu tersebut terjadi, bahkan mungkin banyak lagi yang sering terjadi dan terdengar di telinga kita khususnya pengalaman pribadi yang telah penulis saksikan. Namun apadaya kami yang hanya bisa sedikit berkata dan tidak bisa banyak berbuat apa terkadang hanya sekedar membencinya saja.

Maka dalam hal ini penulis sangat berharap kebijaksanaan serta ketegasan Pemerintah untuk berusaha menghilangkan tindakan keji seperti ini karena perbuatan ini membuat kerugian yang luar biasa terhadap kaum perempuan serta membuat para perempuan kehilangan kualitas dirinya.

Keselamatan kaum perempuan merupakan perkara serius bersama bagi seluruh penduduk di negara ini. Terlebih lagi bagi penduduk daerah Aceh yang telah berlakunya Syariat Islam yang seharusnya menjaga kehormatan perempuan merupakan tugas bersama. Karena dari segi moral maupun agama, perempuan adalah mahluk yang seharusnya dilindungi dan dihormati.

Pemerintah harus bisa memberikan transportasi umum yang aman bagi perempuan, serta memberikan sanksi hukum tegas bagi para pelaku Pelecehan Seksual terhadap perempuan di sarana umum. Meskipun ini tugas bersama, yang memiliki andil terbesar dalam menjaga kehormatan adalah perempuan itu sendiri.

Dalam Islam, perempuan diperintahkan untuk menutup aurat untuk menghindari pandangan dari mata orang-orang yang berpikiran kotor dan jelek. Terlebih yang telah mengalami masalah akan iman dan hatinya untuk menghindari keburukan yang muncul karena nafsu syahwat. Begitulah salah satu cara Islam memuliakan perempuan, menjaganya agar tidak mudah ternoda.

Menutup aurat dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang sewajarnya merupakan langkah pertama mencegah keburukan atau ancaman Pelecehan Seksual maupun ancaman keamanan yang lain.

Langkah pertama tersebut merupakan cara yang ampuh, namun belum cukup sepenuhnya. Kenyataannya, Pelecehan Seksual bisa terjadi pada siapa saja. kita sebagai pengguna jasa angkutan umum seharusnya keamanan merupakan hal pertama yang paling kita risaukan di angkutan umum selain kenyamanan.

Berdasarkan pengalaman penulis yang baru-baru ini terjadi dan kebetulan korbannya pun seorang yang tidak asing lagi bagi penulis. Dimana Ia dilecehkan padahal dia telah berhijab juga pakaiannya telah menutup aurat namun juga terjadi hal demikian pada dirinya.

Melalui pengalaman itu membuat penulis menyadari bahwa Pelecehan Seksual tidak hanya dialami oleh wanita dengan rok mini. Namun bisa juga terjadi wanita berjilbab sekali pun. Ironisnya pelaku Pelecehan Seksual seakan-akan tidak pandang bulu dalam memilih korbannya. Asalkan ada kesempatan, mereka akan melancarkan aksinya.

Mengutip dari perkataan bang Napi yang pernah begitu populer dimasanya. Dan penulis yakin pasti kita pernah mendengarkan pernyataan ini “Kejahatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya. Tetapi karena adanya kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!”.

Dan akhirnya penulis ingin menyampaikan sedikit saran isi pemikiran mudah-mudahan apa yang penulis harapkan juga merupakan harapan kita bersama. Dan semoga harapan ini bisa bersama kita perjuangkan untuk bisa di terapkan dan bersama kita indahkan.

Penulis ingin sedikit menyarankan agar kedepan InsyaAllah antara penumpang laki-laki dan perempuan dapat di pisahkan. Agar tidak terulang lagi peristiwa keji ini meskipun tidak ada jamian penuh akan keselamatan perempuan dengan upaya seperti ini. Tapi setidaknya kita telah sedikit menutup celah kesempatan terjadinya hal yang tidak kita inginkan seperti ini khususnya dalam angkutan umum.

Rubrik       : Tak Berkategori