Pelaksanaan Kemah di Jantho Utamakan Edukasi dan Fungsi Hutan Terhadap Masyarakat, jangan Hura” Saja

  • Whatsapp

Aceh Besar, INFONANGGROE.com – Kemah Pemuda yang dilaksanakan dibukit Jalin Jantho ikut mendapat perhatian dari aktivis pecinta lingkungan Ma’roef ikhsan yang disampaikan kepada media Infonanggroe.com. Selasa, 29 Oktober 2019.

Ma’roef Ikhsan berharap dengan adanya kemah keakraban yang di laksanakan kemarin, dibukit Jalin, Jantho, lebih mengutamakan edukasi dan fungsi hutan terhadap masyarakat, jangan hanya melaksanakan kegiatan yang tidak ada manfaatnya, alangkah lebih baik panitia pelaksana menyediakan bibit pohon untuk untuk kegiatan penghijauan, karena ada beberapa titik saya lihat, banyak pohon yang sudah di tebang, untuk pembukaan lahan atau alih fungsi menjadi lahan kelapa sawit, yang dampaknya sangat luar biasa terhadap lingkungan sekitar.

Riset terkait deforestasi dan dampaknya terhadap kesehatan sangat penting untuk dilakukan, terutama di Indonesia yang sangat sering melakukan pembukaan hutan, ucap Ma’roef Ikhsan.

“Deforestasi tidak hanya mengubah nasib tanaman ataupun satwa yang hidup di atasnya, tapi juga berdampak luas pada lingkungan sekitarnya dan manusia dalam segi kesehatan,” kata Ma’roef yang juga pelopor Lindungi Hutan.

Dalam pembukaan hutan, yang pertama perlu diperhatikan adalah pemanfaatan hasil analisis dampak lingkungan secara maksimal. Yang kedua, perlu memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, katanya.

Lanjut Ma’roef saat ini analisis dampak lingkungan untuk pembukaan hutan sudah banyak dipenuhi, namun follow-up pelaksanaan hasilnya masih kurang dan tidak konsekuen seperti yang banyak terjadi pada kasus pembukaan lahan baru untuk pertambangan, perkebunan, dan sebagainya.

Masalah perubahan penggunaan lahan hutan menjadi non-hutan atau deforestasi memerlukan pendekatan dan kerjasama multisektor untuk menemukan solusi yang menyeluruh dan efektif, tambahnya.

Diperlukan studi lebih lanjut, tidak hanya sekedar melarang manusia memanfaatkan lahan untuk industri ataupun kepentingan ekonomi lainnya, namun untuk memberikan alternatif penggunaan lahan secara maksimal dengan dampak negatif minimal terhadap biodiversitas, ujarnya.

Salah satu bentuk pendekatan dan kerjasama multisektor, pada tahun 2018 telah dijalin kerjasama antara INDOHUN (Indonesia One Health University Network), University of Minnesota, AS dan Eco Health Alliance (EHA) untuk melakukan riset yang diberi nama Disease Emergence and Economics Evaluation of Altered Landscapes (DEAL).Riset ini bertujuan untuk meringankan dampak negatif akibat perubahan lahan yang mungkin terjadi pada masyarakat Indonesia, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi.

Sementara itu Ma’roef ingin mengungkapkan, studi mengenai perubahan lahan saat ini lebih banyak ditekankan kepada untung ruginya dalam segi ekonomi dan lingkungan, namun pendekatan ilmiahnya terhadap kesehatan masyarakat masih kurang diperhatikan.
“Pembangunan yang baik dimulai dari sumber daya manusia yang sehat, sehingga perlu adanya mitigasi ancaman pembangunan kepada kesehatan masyarakat,” kata Ma’roef

Menurut Ma’roef, perubahan penggunaan lahan memiliki dampak terhadap kesehatan, selain terkait perubahan lingkungan faktor penyebar penyakit zoonotik di alam, juga dapat memicu berbagai permasalahan kesehatan lain, seperti gangguan pernapasan akibat asap hasil pembakaran lahan yang juga berdampak lintas negara.

Degradasi lingkungan dan perubahan penggunaan lahan menjadi ancaman bagi manusia berkaitan dengan peningkatan kontak manusia dengan satwa liar sebagai penghuni lahan yang terganggu habitatnya. Hal ini berpotensi mengakibatkan terjadinya infeksi dari satwa liar ke manusia.

Selain itu, perubahan penggunaan lahan juga memiliki dampak ekonomi terkait dengan biaya yang dibutuhkan untuk konversi penggunaan lahan dari hutan menjadi non-hutan, kerugian akibat kerusakan alam, dan biaya perawatan kesehatan akibat penyakit zoonotik yang ditimbulkan, tutup Ma’roef.

Rubrik       : Tak Berkategori