Zonasi, Memberikan Akses Yang Setara Bagi Semua Calon Peserta Didik

  • Whatsapp

Oleh Linda Handayani, S.Pd. M. Pd (Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Ar Raniry Banda Aceh)

INFONANGGROE.com – Waktu Pendaftaran Peserta didik Baru sudah mulai. Masih banyak yang menolak metode zonasi dalam penerimaan siswa baru.

Saya setuju dengan PPDB zonasi karena memberi akses pendidikan yang setara kepada semua anak. Nilai penting, tapi untuk pendidikan, pencapaian nilai tidak seharusnya menjadi penghalang bagi mereka yang bernilai rendah untuk mendapat kesempatan yang sama, karena nilai yang rendah faktornya banyak: kondisi keluarga, lingkungan dan sekolah sebelumnya.

Sungguh pada pikiran bahwa sekolah favorit adalah yang mensyaratkan NEM tinggi ada diskriminasi dan ketidak pedulian pada kesulitan hidup dan ketidakberhasilan pihak pihak lain. Kita masih menghadapi kesenjangan sosial dan anda yang marah dengan sistem atau tidak mau anaknya bergabung dengan anak-anak dengan nilai NEM rendah, mohon maaf, bukankan ada cara pikir yang diskriminatif dan egois di ini ?

Memang ada pergeseran paradigma dalam PPDB zonasi ini, yang menghasilkan cara pikir bahwa sekolah favorit bukan sekolah yang mensyaratkan nilai tinggi untuk masuk, tapi sekolah yang para pendidiknya berdedikasi tinggi, kreatif dan bersahabat. Pendidikan di Indonesia bukan untuk keberhasilan orang-per orang, melainkan untuk keberhasilan seluruh anak bangsa.

Bukan persaingan yang menumbuhkan individualisme tapi kerjasama untuk kemajuan semua orang. Percayalah dengan hilangnya persaingan (dengan semangat individualistis) anak-anak akan lebih bahagia. Bila anak bahagia mereka akan jadi cinta ilmu, ceelrdas, kreatif dan penyayang. Ini lebih penting .

Sahabat orang tua, apa sebenarnya yang paling dicari ketika ketika kita lihat ada orang sangat mendorong anak harus bisa masuk sekolah favorit. Favorit sepenting apa ya? Itu kebutuhan anak atau pihak lain yang masih ingin dinilai sukses mendidik anak? Jangan-jangan ada yang terobsesi dengan citra-ctra hebat dan sudah menularkan obsesi itu pada anak? Heheheh. Penting ngobrol dari hati-ke hati dengan buah hati, apakah mereka bahagia dengan semua tekanan (obsesi) ini? Mungkinkan anak menjadi sungguh-sungguh cinta ilmu katika tertekan saat belajar? Anak yang tumbuh dalam situasi penuh ambisi pada kesuksesan (mencapai nilai angka), bisa jadi ada yang dikorbankan lho : bagimana mereka tetap punya empati, solidaritas dan kasih sayang?.

Apakah kita tidak khawatir bila anak-anak jadi kesulitan berempatii saat kelak kita ringkih di usia tua? Bukankah diatas semua pertama-tama yang terpenting adalah mengajarkan cinta? Dalam hal ini cinta ilmu. Tidak ada yang mustahil dengan semangat dan cinta. Tapi obsesi pada citra-citra hebat?, apa baiknya mengajari anak mengejar bayang-bayang sendiri?

Hidup ini relalu luas, tidak sekedar pencapaian nilai angka dan berbangga pada apa yang disangka sebagai kehebatan teoritis. Di luar lembaga pendidikan juga ada fakultas kehidupan. Masih banyak ruang-ruang yang bisa disinggahi untuk mencapai sukses konkret di luar ruang segi empat yang namanya kelas.

Anak yang bersemangat tapi masuk jalur zonasi, atau menjadi siswa di sekolah desa di pinggiran tidak akan kehilangan jalan kesuksesannya bila tidak kehilangan semangat dan cintanya pada ilmu. Salam dan bahagia

Rubrik       : News

Pos terkait