Hasil Pilpres Hati Jendral Yang Tergores

  • Whatsapp

INFONANGGROE.com – Pesta demokrasi merupakan ajang kompetisi 5 tahunan baik di tingkat Pilpres, Pileg dan Pilkada. Dimana negara memberikan kesempatan setiap warga negaranya untuk mencalonkan diri sebagai calon kandidat di pesta demokrasi ajang 5 tahunan itu. Begitu juga negara mewajibkan bagi seluruh warga negara indonesia yang sudah cukup umur untuk memilih calon pemimpin sesuai dengan kata hatinya tampa ada unsur paksaan.

Negara juga tidak hanya mengatur tentang sang calon maupun sang pemilih, negara juga mengatur tentang bagaimana memberikan keamanan, kenyamanan kepada warganya serta negara juga mengatur bagaimana mekanisme melaporkan kecurangan yag terjadi ketika pemilu.

Ada yang cukup menarik tentang pilpres pada tahun ini, dimana pada tahun 2018 banyak kandidat bakal calon presiden maupun calon wakil presiden yang bemunculan di media seperti Cak Imin, Anies Mata, Yusuf Kala, Jokowi, Prabowo, AHY, Ma’ruf Amin, Sandiaga Uno, Mahfud MD dll. Namun yang betul-betul serius membangun koalisi adalah Jokowi yang berpasangan dengan Ma’ruf Amin begitu juga Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno.

Pertempuran pilpres 2019 ini bukan hanya pertempuran bagi kedua calon baik dari Jokowi – Ma’ruf Amin maupun Prabowo – Sandi tapi juga pertaruhan moral dan demokrasi bagi bangsa ini, serta pertarungan harga diri seumpama bagaikan pertandingan sepakbola di final, tentunya seorang tuan rumah (petahana) tidak mau kalah begitu saja, begitu juga sebaliknya pihak penantang tidak mau kalah untuk kedua kalinya dengan lawan yang sama. Tidak hanya isu itu saja, isu nuansa agama dalam pilpres kali ini sangatlah kental di dengar ditelinga masyarakat, dimana mayoritas NU merupakan pendukung dari kubu 01 begitu juga dengan kubu 02 dapat di pastikan mayoritasnya adalah dari alumni 212.

Mahkamah Konstitusi atau sering di sebut dengan singkatan MK merupakan suatu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaeraan indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan bersama-sama dengan Mahkamah Agung.

Tepat pada hari Rabu tanggal 17 april 2019 secara serentak di seluruh provinsi yang ada di indonesia melakukan pemilihan Presiden – Wakil Presiden dan pemilihan legeslatif dan ini merupakan peralatan pemilu terbesar dalam sejarah Indonesia.

Banyak kontroversi dan kejanggalan yang terjadi selama pilpres tahun 2019 ini seperti : kotak suara yang terbuat dari kardus, banyaknya di temukan surat suara yang tercoblos di selangor malaysia, sampai banyaknya anggota kpps yang meninggal dunia. Tentu menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, ada apa dengan pilpres tahun ini.?

Setiap kali dilaksanakanya pesta akbar demokrasi baik di tingkat Pilpres, Pileg dan Pilkada MK selalu tidak pernah absen, dikarenkan banyak pihak yang melaporkan tentang kecurangan sehingga pihak yang beranggapan dirugikan melaporkan ke Makmah Konstitusi. Begitu juga dengan Badan Pemenanganan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang dikomandoi oleh Bambang Widjojanto yang merupakan ketua hukum bagi BPN mengajukan gugatan sengketa pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi dengan menyerahkan 51 alat bukti.

Dimulai dari ketidakpercayaan oleh kubu 02 terhadap hasil Qiuckcount yang dilakukan oleh lembaga survey, selanjutntya tidak percaya dengan hasil realcount yang di rekap oleh KPU, maka pihak 02 melakukan jalur hukum terakhir dengan melakukan gugatan sengketa pilpres ke Mahkamah Konstitusi. Dan ironisnya kubu 02 tetap kalah. Apa sebenarnya yang ingin di kejar oleh kubu Prabowo.? Ingin menjadi presiden.? Maka dipersilahkan bagi Prabowo Subianto untuk mencalonkan diri kembali pada tahun 2024 mendatang, sebab lawan Prabowo kedepan bukan Jokowi lagi.

Kemengan Jokowi dan kekalahan Prabowo yang kedua kalinya ini nampaknya sudah memantapkan judul tulisan ini “Hasil Pilpres hati Jendral yang tergores”. Ataukah ini juga sebagai bertanda, bahwa prabowo diciptakan bukan menjadi seorang Presiden tetapi diciptakan menjadi seorang Jendral yang memimpin partai Gerindra dan hidup sebagai bapak bangsa.

Banyak pemimpin yang lahir dari olahan tangan dingin sang Jendral ini seperti Jokowi, Ahok, Ridwan Kamil, dan terakhir Anies Baswedan. Sayangnya mereka membelot dan memilih menjadi sang rival politik kecuali Anies menolak karena ia tidak mau mengecewakan orang yang telah melahirkanya menjadi seorang yang hebat walaupun banyak yang mendukung beliau untuk naik menjadi calon presiden.

Hampir semua  lembaga survey yang ada di Indonesia menyatakan bahwasanya pasangan Jokowi – Ma’ruf Amin menang dari pasangan Prabowo – Sandi, begitu juga dengan hasil rrekapitulasi KPU jumlah perolehan Jokowi – Ma’ruf Amin mencapai 85.607.365 atau 55.50 persen. Sedangkan jumlah suara perolehan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno 68.650.239 atau 44.50 persen. Selisih suara keduanya 16.957.123 atau 11 persen. Tentu sudah jelas Jokowi – Ma’ruf Amin unggul.

Untuk sidang pemeriksaan yang dilakukan oleh MK pada tanggal 17-21 kemarin juga sempat menyita perhatian masyarakat, sebab di sidang ketiga yang memakan waktu persidangan yang sangat lama dan penuh alot, hampir 20 jam persidangan ketiga itu berlangsung. Adapun nama-nama hakim Mahkamah Konstitusi dalam menyelesaikan kasus sengketa pilpres pada tahun 2019 ini adalah Anwar Usman sebagai ketua hakim sedangkan anggotanya terdiri dari Aswanto, Arief Hidayat, Wahiduddin Adams, I Dewa Gede Palguna, Enny Nurbaninggsih, Saldi Isra, Suhartoyo, Manahan M.P. Sitompul.

Setelah melalui proses persidangan yang digelar sebanyak lima kali dengan agenda pembacaan dalil pemohon, pembacaan dalil termohon, pembacaan dalil termohon dan pihak terkait, pemeriksaan saksi pemohon, termohon serta pihak terkait. Selanjutnya hakim konstitusi menggelar rapat sebelum memutuskan perkara tersebut. Tepat pada tanggal 27 juni 2019 hakim membacakan putusan tentang sengketa pilpres yang digugat oleh pihak Prabowo – Sandi. Pembacaan putusan sidang MK sengketa pilpres dimulai dari pukul 12:45 WIB.

Sesuai dengan putusan MK tentang sengketa Pilpres pada Nomor 01/PHPU-PRES/XVII/2019 dimana hakim anggota membacakan tentang menolak seluruh gugatan yang di ajukan oleh pihak Prabowo – Sandi yang terdiri dari; dugaan ketidaknetralan polri dan BIN, Soal kecurangan TSM, klaim perolehan suara, soal tudingan 22 juta DPT siluman, kecurangan pemilu lewat situng (sistem informasi penghitung suara), soal dana kampanye. Tepat pada jam 21:16 pembacaan putusan itu di bacakan oleh hakim ketua.

Kekalahan kubu prabowo seakan sudah terlihat sebelum pilpres itu berlangsung. Dapat dilihat kurang kuatnya koalisi yang dibangun Prabowo – Sandi salah satunya dari Partai Demokrat yang di komandoi oleh mantan Presiden ke-6 dan ketua Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) yang masih belum mantap terhadap koalisi Indonesia Adil dan Mamur yang terdiri dari partai Gerindra, PKS, PAN, Demokrat hingga partai baru Bekarya.

Tergoresnya hati seorang Jendral bukan hanya kalahnya bertarung di pilpres 2019, namun hancurnya koalisi yang di bangun jauh-jauh hari sebab Partai Demokrat dan PAN tentunya dapat diprediksi akan berhaluan, namun berbeda dengan PKS dan Partai Berkarya yang masih setia dengan Prabowo. Itulah politik, tak ada kawan dan lawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang  abadi.

Penulis : Ramadhan Djamal, S.H (Alumni Hukum Pidana Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh).
Aliexpress WW
Rubrik       : Tak Berkategori