Cerita Wakil Ketua RT soal Kafe Khayangan: dari Kalijodo ke Gang Royal

  • Whatsapp

INFONANGGROE.com – Kafe Khayangan digerebek polisi setelah ketahuan mempekerjakan anak baru gede (ABG) sebagai pekerja seks. Kafe esek-esek yang dikelola oleh ‘Mami Atun’ ini sendiri sudah 3 tahun beroperasi di Gang Royal RT 02 RW 13, Jl Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara setelah Kalijodo dibongkar pada era Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama atau Ahok di tahun 2016.

“Ya baru 3 tahun lah ‘Mami Atun’ usaha di sini. Jadi pas Kalijodo ditutup itu nggak langsung di sini,” kata Wakil Ketua RT 02 Agung Tomasya kepada detikcom di lokasi, Sabtu (25/1/2020).

Agung menyebut, lokalisasi di Gang Royal sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja, lokalisasi di Gang Royal tidak sehingar bingar di Kalijodo pada saat itu.

“Kalau praktik prostitusi tahu, kan lokalisasi ini udah ada sekitar 30-40 tahun lebih. Saya ke sini udah ada, jadi Kalijodo ada ini juga sudah ada. Tapi hingar bingar masih kalah sama Kalijodo,” tuturnya.

Namun, seiring pembongkaran Kalijodo dilakukan pada tahun 2016, beberapa di antaranya pindah ke Gang Royal.

“Nggak langsung itu juga (pindah), kira-kira beberapa bulan setelah Kalijodo (dibongkar) baru lah pindah kemari. Kita sudah antisipasilah, ‘wah Kalijodo tutup, ini bakal pindah kemari’, di situ kita koordinasi jangan cuma kita kebagian apesnya doang nih,” katanya.

“Ditambah waktu di Kalijodo kan kental dikenal dengan prostitusi, di sini kita kondisikan. Saya nggak mau ada keributan, saya nggak mau aturan di sana (Kalijodo), harus dibikin seperti ini. Tolong kita minta kerjasama, kalau mau buka usaha disini yuk ikutin aturan di sini,” sambungnya.

Kembali ke Kafe Khayangan, Agung menyebut pihaknya tidak tahu menahu bila ‘Mami Atun’ ternyata mempekerjakan ABG sebagai PSK. Agung menyebut pihaknya kecolongan.

“Saya tidak tahu, kalau misal tahu bukan bapak-ibu warga yang melapor, saya sendiri yang melapor. Kita melakukan pendataan, ‘Mami Atun’ ini merekrut anak buahnya bekerja sama dengan penyalurnya. Di situ kita kecolongan,” tutur Agung.

Agung mengakui, pihaknya memungut uang kebersihan dari kafe-kafe yang ada di situ. “Kita tagih uang sampah ya Rp 20 ribu per bulan, kadang-kadang ngasih ‘Pak ini buat kopinya’ dikasih Rp 50 ribu,” ucap Agung.

Sementara Agung mengaku tidak mengetahui apakah ada uang keamanan yang dipungut dari kafe-kafe di sana. “Uang keamanan kita tidak tahu, jadi kalau kami dari RT cuma tagih uang kebersihan aja, uang kerja bakti. Kalau ada undangan kerja bakti, mereka kan numpang kerja bakti jadi nggak pernah bisa ikut, mereka cuma ngasih uang kerja baktinya aja,” lanjutnya.

Kafe Khayangan sendiri telah ditutup oleh Pemkot Jakarta Utara menyusul adanya penyelidikan polisi terkait prostitusi di bawah umur. Bangunan kafe itu sendiri, disebut Agung, berada di tanah milik PT KAI.

“Kalau lihat dari strukturnya itu (tanah) masuk dari PJKA, PT KAI sekarang, kalau depannya itu ada masih tanah negara cuma dipakai oleh masyarakat. Bukan milik warga, tapi tanah negara. Tapi dulu karena masyarakat yang ngejaga, ngerawat, membangun ya udah nih saya yang iniin (gunakan lahan) dipakai usaha gitu,” tuturnya.

Lebih lanjut, Agung mengatakan pihaknya saat ini masih menunggu langkah dari pemerintah. Agung sendiri mengapresiasi keputusan pemerintah apabila lokalisasi itu harus ditertibkan.

“Menunggu tindak lanjut dari pemerintah. Tapi hasil apapun kita terima, kita apresiasi putusan pemerintah, siap menerima kalau misal ini harus ditutup, kita dukung,” tandasnya. | detikcom

Rubrik       : Tak Berkategori