AK : Penetapan Ganja Sebagai Narkotika Golongan 1 Patut Ditinjau Ulang

  • Whatsapp

BANDA ACEH, INFONANGGROE.com – Penetapan ganja sebagai golongan I sebagaimana termaktub dalam lampiran Permenkes Nomor 20 tahun 2018 dinilai sebagai ketetapan yang keliru dan harus ditinjau ulang.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Yayasan Aceh Kreatif, Delky Nofrizal Qutni kepada media infonanggroe, Selasa (18/06/2019).

Dia menyebutkan, jika dilihat dalam Pasal 6 ayat (1) UU Narkotika, narkotika digolongkan ke dalam Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

“Berdasarkan pasal 6 ayat 1 UU Narkotika tersebut dapat kita simpulkan bahwa ganja tak dapat dikategorikan sebagai narkotika kelas I. Sementara itu, ganja atau mariyuana berasal dari tanaman bernama Cannabis sativa, tanaman ini disebut memiliki 100 bahan kimia berbeda yang dinamakan cannabinoid. Masing-masing bahannya memiliki efek berbeda pada tubuh. Para ahli juga menyebutkan bahwa Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD) merupakan bahan kimia utama yang kerap digunakan dalam pengobatan. Jadi, jika terbukti ganja bisa digunakan untuk pengobatan, maka ganja tak bisa serta merta dikategorikan sebagai narkotika kelas I,” bebernya.

Menurut Delky, pengelompokan ganja sebagaimana diatur dalam Permenkes nomor 20 tahun 2018 dan patut ditinjau ulang.

Delky ada tahun 2011 BNN menyatakan belum pernah dilakukan penelitian khusus tentang tanaman ganja tersebut. “Berdasarkan surat Badan Narkotika Nasional Nomor : B/28724/X/2011/BNN Tanggal 06 Oktober 2011 perihal data penelitian mengenai tanaman ganja disebutkan bahwa BNN sampai saat itu belum pernah melakukan penelitian khusus tentang tanaman ganja. Sehingga disinyalir penjelasan pasal pasal 6 huruf (1) ayat (a) UU narkotika itu patut dipertanyakan,”cetusnya.

Dia juga menjelaskan, penetapan ganja sebagai narkotika golongan I membuat ganja dilarang digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan. Dalam jumlah terbatas, narkotika golongan I ini dapat digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan.

“Jadi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang manfaat ganja bagi kesehatan. Dustin Sulak, seorang profesor bedah, meneliti dan membuat mariyuana untuk digunakan secara medis. Sulak merekomendasikan beberapa jenis mariyuana kepada para pasiennya dan mendapat hasil yang mengejutkan,” paparnya.

Tak hanya itu, kata Delky, ganja juga disebut-sebut sebagai sebagai obat mencegah mata dari penyakit glaukoma, obat mencegah kejang karena epilepsi, obat yang dapat mematikan beberapa sel kanker, mengurangi nyeri kronis, bahkan Journal of the American Medical Association pada Januari 2012 menyebutkan bahwa ganja tidak merusak fungsi paru-paru, bahan yang satu ini bisa meningkatkan kapasitas paru-paru.

“Penetapan ganja sebagai narkotika golongan I itu secara tidak langsung mengesampingkan dan mengabaikan sejumlah manfaat ganja bagi kesehatan serta berdampak secara tidak langsung merugikan daerah penghasil ganja terbaik dunia seperti Aceh,”sebutnya.

Menurut Delky, jika penelitian berhasil membuktikan manfaat dan khasiat ganja secara kesehatan, maka tidak menutup kemungkinan pemerintah akan melakukan pengembangan dan mendorong hadirnya sentra produksi ganja di daerah potensial seperti di Aceh.

Namun demikian, kata Delky, tentunya sebelum pengembangan itu dilakukan, pemerintah harus membuat aturan/regulasi. “Jadi, sebelum pengembangan harus dibuat regulasi yang tegas terkait pengawasannya agar tak disalahgunakan. Jika regulasinya telah mantap maka tidak menutup kemungkinan Indonesia dan Aceh akan mengekspor produk-produk medis dari ganja yang bermanfaat untuk keselamatan orang banyak dan berbagai manfaat lainnya,”tandasnya.

Aliexpress WW
Rubrik       : Tak Berkategori