74 Tahun Kemerdekaan Fragmentaris

  • Whatsapp

INFONANGGROE.comDirgahayu Republik Indonesia yang ke-74, 74 tahun yang lalu Indonesia telah merdeka ditandai dengan pembacaan naskah proklamasi oleh bapak proklamator Indonesia sebagai puncak dari revolusi kemerdekaaan bangsa Indonesia. Keberhasilan dari revolusi kemerdekaan membuat Indonesia menjadi negara yang merdeka dari kaum penjajah.

Kalau dikilas kembali sejarah, bung Karno pernah mengatakan kalimat singkat, padat, dan penuh makna “jas merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah, kalimat ini ia sampaikan ketika pidato kemerdekaanya yang terakhir 17 Agustus 1966 sebelum akhirnya pria kelahiran Surabaya 6 Juni 1901 ini turun tahta dan digantikan seorang tiran yang menjadikan negara demokrasi seolah-olah tirani, dari ungkapan “jas merah” tersebut ada sedikit pertanyaan yang tersontak mengenai sejarah dikepala penulis, kenapa bung Karno dan Bung Hatta yang kala itu menjadi bapak proklamator, padahal masih banyak tokoh pergerakan nasional yang tak kalah hebat dan terkenal selain mereka berdua?.

Akhirnya pertanyaan itu pun dapat terjawab dari tulisan Widiastuti, Ternyata tiga tahun masa pendudukan Jepang sangat berpengaruh bagi dunia politik Indonesia. Terjadi pergeseran pengaruh politik antara masa penjajahan Belanda dan Jepang. Diakhir masa penjajahan Belanda, Soekarno menjadi musuh Belanda. Hal ini justru berbeda dengan masa Jepang yang menjadikan  Soekarno sebagai anak emasnya. Demi propaganda Tiga A (Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia) dan cita-cita kekuasaan Asia Timur Raya, maka terjadi deal-deal politik antara Soekarno dengan Jepang. Janji-janji kemerdekaan dari Jepang menjadikan Soekarno corong bagi kepentingan politik Jepang di Indonesia. Maka atas angan-angan Soekarno lahirlah program PETA dan Romusha sebagai bentuk dukungan bangsa Indonesia terhadap angkatan militer Jepang untuk melawan tentara sekutu.

Jargon Soekarno: ”Inggris kita linggis, Amerika kita setrika” telah membawa Soekarno keliling Indonesia sebagai juru kampanye politik Jepang. Bisa dibayangkan bahwa Soekarno menjadi orang yang paling terkenal pada saat masa Jepang. Nama Soekarno dikenal oleh seluruh wilayah yang dikuasai oleh tentara Jepang. Jepang memberikan hadiah istimewa kepada bangsa Indonesia dihari ulang tahun Tenno Heika. Hadiah tersebut adalah dibentuknya BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Badan yang diketuai Soekarno sebagai orang kepercayaan Jepang ini bermaksud mempersiapkan segala hal tentang kemerdekaan Indonesia.

Saat Jepang kalah oleh sekutu, maka otomatis hanya Soekarno yang bisa dipercaya oleh Jepang untuk mengamankan cita-cita Jepang sebagai penguasa Asia Timur Raya, konon pertimbangan inilah yang menyebabkan kelompok sosialis Soekarni dan Ahmad Soebarjo memaksa Soekarno sebagai proklamator. Dengan pertimbangan, pengangkatan Soekarno sebagai proklamator dipandang tidak akan ada penentangan dari militer Jepang yang masih bercokol di Indonesia. Akhirnya Soekarno pun tampil sebagai proklamator yang disetujui oleh semua orang. Adapun Mohammad Hatta adalah pelengkap dari Soekarno.

Hari dimana diproklamirkan naskah proklamasi itulah yang akhirnya kita kenal dengan hari kemerdekaan, tapi apakah kemerdekaan itu merupakan kemerdekaan secara paripurna?, penulis rasa tidak !, karna merdeka adalah bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya. Artinya tak adalagi rakyat Indonesia yang menjadi hamba, ataupun hak-haknya dijajah oleh siapapun. Indonesia baru merdeka secara fragmentaris, yaitu merdeka dalam fragmentasi penjajahan fisik, penjajahan fisik memang telah berakhir dengan selesainya perang dunia kedua, tapi penjajahan fragmentasi lain seperti penjajahan ekonomi dan penjajahan budaya masih dialami negara dunia ketiga seperti Indonesia sampai detik ini. Seperti ditanda tanganinya perjanjian Oslo, Norwegia. Dalam perjanjian Oslo, Indonesia diwajibkan mengurangi emisi karbon dengan iming-iming hibah sebesar US$ 1 miliar per tahun.

Ditambah lagi sumber daya alam Indonesia banyak dikuasai asing atas nama investasi, disektor ketenagakerjaan, pekerja lokal harus gigit jari tergerus oleh tenaga kerja impor, seperti proyek PLTU Celukan Bawang di Buleleng, Bali, diantara ratusan pekerja asal Tiongkok, tak terlihat satu pun pekerja lokal. Begitupula di Manokwari, Papua, ada sekitar 359 tenaga kerja asal China diperkerjakan di pabrik semen. Kita sebenarnya masih dijajah dalam sektor ekonomi. Sedangkan pada sektor budaya sangat banyak remaja Indonesia yang akhir-akhir ini terkena penyakit demam K-pop, seseorang yang terkena demam K-pop akan mulai mencari tahu tentang seluk-beluk dari negara Gingseng tersebut, sehingga ia mengesampingkan budaya negaranya sendiri.

Indonesia telah berhasil merdeka dari penjajahan negara dunia pertama dalam sektoral penjajahan fisik, tapi kultur kaum penjajah masih menghegemoni dan mendominasi rakyat Indonesia, bahkan menurut Darsono Prawironegoro masyarakat Indonesia sekarang adalah: masyarakat kapitalis dengan sisa-sisa feodalisme dalam cengkraman imprealisme. Menilik kondisi sosial dan realita obyektif Indonesia dewasa ini, pengaruh neo-kolonialisme masih mangakar dalam kehidupan rakyat Indonesia, momentum kemerdekaan indonesia secara fragmentaris ini harus menjadi kesempatan untuk merefleksikan nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, kedepannya kita harus merdeka secara paripurna bukan lagi secara fragmentaris dengan cara mengusir kaum penjajah ekonomi beserta kaum penjajah ekonomi lokal seperti kaum kapitalis birokrat dan kapitalis komprador. Kita juga harus mengusir kaum penjajah budaya dengan cara mencintai dan mengkonservasikan budaya asli Indonesia serta melahirkan dan menguasai karya tertinggi umat manusia abad ke – 21 berupa ilmu pengetahuan dan teknologi.

Apabila penjajahan ekonomi dan budaya telah berhasil diusir dari bumi ibu Pertiwi maka Indonesia barulah dapat dikatakan sebagai negara yang merdeka secara paripurna karena telah mencapai puncak revolusi kemerdekaan dari penjajahan fisik, penjajahan ekonomi, dan penjajahan budaya. Merdeka !.

Oleh : Muhamad Khairul Rasyid (Gubernur Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI-PIQ SUMBAR)

Rubrik       : Tak Berkategori