Riwayat Hubungan Prabowo dan PA 212

  • Whatsapp
Prabowo Subianto saat menghadiri Ijtimak Ulama II pada Minggu (16/9/2018) (Rifkianto Nugroho/detikcom)

Jakarta – Dukungan Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk Ketum Gerindra Prabowo Subianto kini telah usai. Bahkan PA 212 kini terang-terangan menyatakan nasib politik Prabowo di 2020 sudah selesai.

Padahal hubungan Prabowo dan PA 212 pernah begitu mesra saat menjelang Pilpres 2019. Begini riwayat hubungan Prabowo dan PA 212.

Hubungan mesra Prabowo dengan PA 212 bermula saat Ijtimak Ulama Jilid I-IV digelar pada 27 Juli hingga 5 Agustus 2019. Ijtimak Ulama diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Front Pembela Islam, dan PA 212.

Dalam Ijtimak Ulama I, Komisi Bidang Politik merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres 2019 pada 29 Juli 2018. Saat itu Prabowo direkomendasikan untuk berpasangan dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri dan Ustaz Abdul Somad.

Baca juga:
Ini Profil  Rohingya yang Kabur dari Kamp  BLK Kandang, Sempat Viral  karena Cantik dan Bercadar

Namun pada akhirnya Prabowo justru berpasangan dengan Sandiaga Uno. Ijtimak Ulama pun tetap mendukung pasangan ini.

Selanjutnya, dalam Ijtimak Ulama II, Prabowo meneken pakta integritas yang disodorkan oleh GNPF Ulama di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu (16/9/2018). Ada 17 poin yang disodorkan, salah satunya tentang usaha memulangkan Habib Rizieq Syihab dari Arab Saudi.

Pilpres 2019 digelar pada 17 April 2019. Kemenangan ternyata belum berpihak pada Prabowo-Sandiaga. Mereka kalah oleh pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin berdasarkan situng KPU.

PA 212 tetap membela melalui Ijtimak Ulama III yang digelar pada 1 Mei 2019. Ijtimak Ulama II menyimpulkan bahwa Pilpres 2019 diwarnai kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif. Ijtimak mendesak Bawaslu-KPU untuk mendiskualifikasi paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dari Pilpres 2019. Namun Jokowi-Ma’ruf tetap dinyatakan menang oleh KPU.

Selanjutnya, PA 212 juga masih mendukung Prabowo melalui Ijtimak Ulama IV. Ijtimak Ulama IV ini tetap menyimpulkan bahwa kemenangan Jokowi-Ma’ruf sarat akan kecurangan. Mereka menolak pemerintahan yang dipimpin Jokowi-Ma’ruf.

Hubungan Prabowo dan PA 212 mulai mendingin ketika ada sinyal terkait bergabungnya Prabowo ke dalam kabinet Indonesia Maju Presiden Jokowi. Prabowo kemudian benar-benar masuk kabinet dan menyandang jabatan Menteri Pertahanan.

Baca juga:
Pelanggar Protokol Kesehatan Terancam Dikenakan Sanksi di Aceh

Menanggapi hal ini, Ketua PA 212 Slamet Maarif mengaku tak ingin mencampuri keputusan Prabowo itu. Dia bahkan mendoakan Prabowo agar bisa menjaga pertahanan negara dan umat.

“Kami tidak ingin mencampuri hak pribadi PS (Prabowo Subianto), jika itu keputusan yang diambil PS menjadi Menhan, kita hanya bisa mendoakan semoga ada manfaat buat pertahanan negara dan umat, tetapi secara organisasi, kami tetap berpegang pada hasil Ijtimak ulama 4, dan tidak akan rekonsiliasi dengan kekuasaan yang curang dan zalim,” kata Slamet, Kamis (24/10/2019).

Hanya, pakta integritas soal kepulangan Habib Rizieq belum bisa dipenuhi Prabowo. PA 212 memilih berjuang sendiri guna memulangkan Habib Rizieq.

“Kan nggak jadi presiden. Kami akan berjuang memulangkan HRS dengan cara dan kemampuan kami sendiri,” ungkap Slamet.

Hubungan Prabowo dan PA 212 pun akhirnya benar-benar telah selesai ketika Partai Gerindra bicara soal proyeksi Prabowo pada Pilpres 2024.

Baca juga:
Makam Pahlawan Tjoet Nya’ Meutia Memprihatikan Luput dari Perhatian Pemkab Aceh Utara

“Bagi kami PS (Prabowo Subianto) sudah selesai, masih banyak kader muda yang layak pimpin negeri ini ke depan, 2024 saatnya yang muda yang berkarya,” ujar Slamet Ma’arif kepada wartawan, Minggu (9/8).

Slamet mengatakan banyak kader Gerindra yang lebih muda untuk memimpin Indonesia. Serta dari partai lain atau dari kalangan profesional.

“Banyak juga kader muda Gerindra yang berpotensi pimpin negeri. Dari partai lain dan profesional juga banyak yang layak pimpin negeri,” kata dia.

Slamet mengatakan banyak tokoh muda yang berpotensi dicalonkan pada 2024 nanti. Seperti Sandiaga Uno, Anies Baswedan, hingga Habib Rizieq Shihab.

“Banyak tokoh muda ada SSU (Sandiaga Salahudin Uno), Wagub DKI (A Riza Patria), Gubernur DKI (Anies Baswedan), Gym, UAS (Ustaz Abdul Somad, HRS (Habib Rizieq Shihab), dan lain-lain,” ungkap Slamet.

Rubrik       : Nasional, Politik
Sumber    : detikcom

Pos terkait