MPU Banda Aceh akan Kaji Permainan Domino

  • Whatsapp
ilustrasi game yang diduga meresahkan

BANDA ACEH, INFONANGGROE.com – Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh, mulai menyoroti permainan domino yang semakin ramai digeluti warga Banda Aceh.

Sehingga, MPU Banda Aceh melakukan audiensi dengan Dinas Syariat Islam (DSI), Majelis Adat Aceh (MAA), dan Satpol-PP/WH di Aula MPU, Kota Banda Aceh, Kamis (6/8).

Ketua MPU Kota Banda Aceh, Tgk Damanhuri Basyir MAg mengatakan, audiensi ini dilakukan untuk mengkaji permasalahan hukum bermain domino yang sedang marak di beberapa tempat di Kota Banda Aceh.

Baca juga:
Satukan Pemahaman dan Persepsi Kemenag Abes Sosialisasikan KMA 183 dan 184 Tahun 2019

“Topik kita hari ini kajian masalah domino yang sudah menggejala dan meresahkan warga Kota Banda Aceh,” katanya.

Menurutnya seperti dilansir acehtribunnews, secara hukum Islam segala sesuatu perbuatan walaupun perbuatan itu halal. Namun menjurus kepada perbuatan yang diharamkan maka hukumnya adalah haram.

“Untuk itu kita mengambil langkah dan sikap, mestinya domino dihilangkan di Banda Aceh,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Syariat Islam Kota Banda Aceh Alizar SAg MHum meminta kepada MPU Kota Banda Aceh, agar mengeluarkan rekomendasi dalam bentuk tausiah kepada Wali Kota Banda Aceh.

Untuk mengatur regulasi dalam menindak para pemain domino.

“Jadi kita harap MPU mengeluarkan sebuah tausiah tentang hukum bermain domino. Sehingga pemko mengeluarkan kebijakan yang menjadi landasan petugas sebelum bertindak,” pintanya.

Baca juga:
Kontak Erat Covid-19 Ditelusuri, 54 Orang Positif Baru Ditemukan

Menanggapi hal tersebut, Tgk Damhuri berencana akan mengeluarkan tausiah kepada Wali Kota Banda Aceh dalam waktu dekat ini.

“Jadi kita nanti hanya membuat tausiah, lalu kita sampaikan kepada wali kota untuk mengeluarkan kebijakan. Kebijakan itulah yang bisa menjadi pegangan bagi petugas di lapangan,” tanggapnya.

Ia berharap, nantinya kebijakan yang akan ditetapkan oleh Wali Kota Banda Aceh dapat memberi dampak positif bagi warga Kota Banda Aceh.

Pasalnya, bermain domino dinilai rentan menjurus ke perjudian yang dapat meresahkan warga.

“Kami minta lebih baik waktu kosong digunakan kepada perbuatan-perbuatan yang baik seperti membaca, diskusi, duduk bersama keluarga itu jauh lebih baik dari pada membuang masa di warung kopi bermain domino, apalagi sampai meninggalkan shalat,” harapnya.

Baca juga:
Rektor UTU Tarik Peserta KKN Tematik Secara Simbolis Dengan Virtual Teleconference

Hal senada juga disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Adat Aceh Kota Banda Aceh, Mulyadi Thaib.

Ia sepakat, agar domino ini lebih baik ditiadakan di Kota Banda Aceh, karena dinilai membuang-buang waktu tanpa bermanfaat.

“Contoh ada satu tempat yang kita tahu bersama, habis maghrib orang sudah mulai berkumpul di situ (untuk bermain domino). Itu sangat mengganggu lingkungan dan menyia-nyiakan waktu juga, mendekati perjudian,” jelasnya.

Ia berharap, agar masyarakat bisa mengajarkan contoh perbuatan yang lebih baik kepada generasi penerus untuk melakukan hal-hal positif.

“Harapannya kedepan kalau bisa memang domino itu tidak boleh lagi di Banda Aceh, sehingga generasi kita itu bisa melakukan hal-hal yang lebih positif,” harapnya.

Rubrik       : Nanggroe

Pos terkait