RTIK ABDYA: Kami Siap Bantu Aplikasi Tanpa Harus Memboroskan Anggaran

  • Whatsapp
ampilan aplikasi Tokopika. Foto: Dok infonanggroe

BANDA ACEH – Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), mengkritik pembuatan Sistem Informasi Terpadu Pusat Industri Kreatif Abdya (PIKA). RTIK menilai, proyek yang menelan APBK tahun 2020 mencapai Rp.1,3 miliar, terlalu besar dan pemborosan anggaran.

Sekjen RTIK Aceh Barat Daya, Mizardi mengatakan, pihaknya mendukung penuh keinginan kuat Bupati Abdya, Akmal Ibrahim ingin UMKM setempat naik kelas dan berkembang mengikuti perkembangan era digital.

Namun demikian, RTIK Abdya menyangkan proses lelang barang/jasa yang nilainya di luar kewajaran.

Baca juga:
RTIK Aceh: Aplikasi PIKA Abdya Kami Bisa Buat dengan Harga Rp30 Juta

“Jika hanya sekeder membuat sebuah marketplace, kami bisa membantu pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, tanpa harus memboroskan anggarakan daerah,“ kata Mizardi, dalam rilis yang diterima infonanggroe.com, Minggu,20 Desember 2020.

Sejauh ini, kata Mizardi, rekan-rekan RTIK sudah banyak melahirkan marketplace yang sudah dipakai oleh pihak pemerintah dan pihak swasta yang sama fungsinya seperti PIKA.

“Jika dilihat dari output aplikasi PIKA yang dibuat oleh Pemerintah Abdya, banyak sekali kekurangan jika dibandingkan dengan harga pembuatannya yang mencapai miliaran rupiah,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, jika benar Tokopika tersebut bisa akses di smartphone atau telepon pintar dalam aktivitas sehari-hari, mengapa hanya dibuat dalam bentu versi APK saja kenapa tidak ada versi IOS.

“Seharusnya dengan anggaran Rp1,3 miliar tersebut sudah ada versi IOS, supaya masyarakat yang mengunakan Iphone juga bisa mengakses aplikasi tersebut. Apakah menunggu anggaran lagi untuk membuat version IOS,” katanya.

Baca juga:
IMM Abdya Pertanyakan Beasiswa yang Tidak Kunjung Terealisas

Seharusnya, kata dia, sebelum melakukan lauching ada beberapa hal yang harus dilakukan seperti melakukan literasi digital terhadap pelaku UMKM yang ada di Abdya supaya para pelaku UKM paham dalam penggunaan marketplace.

“Hari ini banyak masyarakat yang bertanya kepada kami bagaimana cara menggunaka aplikasi tersebut, ini bertanda bahwa aplikasi yang dilauching tersebut tahap sosialiasinya masih terlalu minim,” tambahnya.

Seharusnya, sambung Mizardi, dengan anggaran Rp 1,3 miliar tersebut selain membangun infrastruktur dan mengembangkan ekosistem digital, dinas terkait juga mensosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha tentang pemanfaatan e-commerce.

“Supaya aplikasi yang sudah di buat bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.

Rubrik       : Nanggroe

Pos terkait