PLTU Nagan Raya : Unit Bertambah Lapangan Kerja Berkurang

  • Whatsapp
IST. Foto : detikcom

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Nagan Raya dalam mencukupi pasokan LIstrik di pulau Sumatra Khususnya menambah dua unit baru, yaitu Unit 3 dan Unit 4. Mega proyek ini sedang dalam proses pengerjaan. Secara kasat mata ini menjadi angin segar bagi masyarakat yang bermukim di sekitaran PLTU tersebut, yang tak lain merupakan warga masyarakat Kecamatan Kuala Pesisir.

Namun nyatanya yang terjadi dilapangan ladang penyerap tenaga kerja ini malah mejadi ladang aseng. Hal ini terbukti dengan beberapa kali masyarakat melalukan pengusiran terhadap TKA yang masuk melalui Banda Udara Tjut Nyak Dhien untuk bekerja di perusahaan.

Baca juga :
Pekerja Proyek di Nagan Raya Meninggal Ditabrak Dump Truck

Sungguh ini menjadi PR besar. Sebab semenjak berdirinya PLTU Nagan Raya Unit 1 dan 2 yang telah ber operasi sejak tahun 2013 tidak bisa secara maksimal menyerap tenaga kerja local. Ini tentu sangat merugikan masyarakat local.

Sebab harapan besar memberikan izin dan lahan untuk di bangunnya mega proyek ini dengan pertimbangan matang, siap menanggung sejuta konsekuensi, terutama dampak lingkungan dan kesehatan. Semua dengan eskpektasi serta harapan akan adanya lapangan kerja yang lebih baik untuk masyarakat kuala pesisir.

Kini babak baru untuk PLTU Kabupaten Nagan raya, pembangunan unit 3 dan 4 kembali membuka asa masyarakat local untuk mengabdi pada perusahaan pembangkit listrik tenagan Uap terbesar di Aceh. Namun dari pantauan penulis dalam pengerjaan mega proyek ini pun masyarakat pemilik Kartu Tanda Penduduk(KTP) Kuala Pesisir hanya di pekerjakan sebagai buruh kasar yang di gaji harian.

Tentu ini tidak sesuai harapan dari masyarakat sekitar. Terlebih lagi honor yang diterima oleh buruh kasar dan buruh Aseng berbeda.

Mengenang janji awal yang begitu manis membujuk orangtua-orangtua kami untuk menjual tanahnya, nanti akan kita bangun sebuah perusahaan besar yang akan menyerap tenaga kerja yang banyak dan semua masyarakat kuala pesisir akan di mudahkan untuk menjadi abdi di perusahaan ini.

Baca juga:
Mahasiswa Nagan Raya Hadiahkan Cairan Busuk Kepada DPRK

Kini semua itu hnaya sebagai pemanis dalam melancarkan trik mengambil hati masyarakat. Implementasinya kosong, kita bisa menghitung jari berapa orang warga kuala pesisir yang bekerja tetap di PLTU Nagan Raya. Yang paling banyak mengisi bagian Security.

PLTU Nagan Raya sampai detik ini hanya menjadi parasit bagi masyarakat, dari debu sampai abu, dari asap sampai kabut, belum lagi tumpahan batu bara dari tongkang yang keluar masuk dermaga PLTU Nagan Raya merusak ekosistem laut dangkat sekitaran pantai Naga Permai yang mengakibatkan terganggunya mata pencaharian nelayan pukat Bineh (Jaring laut dangkal). Jika PLTU Nagan Raya hadir sebagai tontotan untuk kami baiknya tidak usah di bangun saja.

Baca juga:
Pengendara Scoopy Asal Abdya Terlindas Truck di Nagan Raya

Selain mengenai polusi, debu, dan daya serap tenaga kerja. Kemudian bagi pendidikan juga belum terasa kontribusi PLTU Nagan Raya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Entah manusia biadab seperti apa yang sudah di pekerjakan PLTU Nagan Raya untuk mengelola CSR-nya sehingga dana social tersebut hampir bisa kita sebut tidak sampai di tangan masyarakat terkhusus bidang pendidikan.

Banyak anak kuala pesisir yang menueungkan niatnya untuk menjadi mahasiswa akibat tidak adanya biaya. Padahal ada yang sudah lulus dan di terima di perguruan tinggi, tetapi karna tidak adanya tempat tinggal membuat sebagian dari mereka harus mengubur mimpi menjadi sarjana.

Sudah seharusnya sebuah perusahaan peka terhadap keadaan lingkungan sekitarnya. Namun hal itu tidak demikian dengan PLTU Nagan Raya. Entah sampai kapan kita akan terus menjadi penonton atas Harta dan kekayaan tanah kita yang di ambil, dimamfaatkan tanpa keterlibatan kita tepat seperti peribahasa Aceh yang mengatakan; “Buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki”.

Semoga melalui tulisan ini dapat mengetuk hati pihak-pihak yang bertangung jawab terhadap hal yang sudah penulis sampaikan di atas. Sampaikan jalanan berdebu dan berlubang di biarkana menganga, sampai berjatuhan korban jiwa? Apa kurang nyawa yang pernah melayang di jalanan depan perusahaan. Sampai kapan warga local sebagai penonton tenaga kerja asing?.

Sunggu ini adalah bom waktu yang kapan saja bisa meledak bila warga sudah sangat gerah dengan cara dan permainan perusahaan. Kami di perkosa tapi aseng menikmati hasilnya. Kami kecewa.

Oleh : Fazil Rinaldi
Mahasiswa Ilmu Politik UIN Ar-Raniry

Rubrik         : Kolom

Pos terkait