Covid-19 dan Masyarakat Desa

  • Whatsapp
Covid-19 dan Masyarakat Desa

Melihat situasi dunia pada hari ini, covid-19 semakin hari semakin merajalelah dan membuat masyarakat pun semakin hari semakin resah. Di desa atau kampung-kampung pandemi covid-19 ini tidak terlalu mengganas seperti yang tengah terjadi di kota. Masyarakat desa nyatanya masih bisa melakoni aktivitas seperti biasanya. Termasuk pergi bekerja ke sawah, melaut, berdagang, dan bahkan tetap nongkrong di warkop pada malam hari.

Hal ini menjadi sebuah tanda tanya besar. Apakah ini pertanda bahwa masyarakat desa kebal dengan covid-19 dan malah tidak takut mati ?

Haruskah mereka melihat dengan mata kepala sendiri korban positif covid-19, atau ada salah satu dari tetangga mereka yang terjangkit. Barulah kemudian mereka mempercayai dan waspada terhadap penyebaran virus yang mematikan tersebut. Wallahu alam jangan sampai itu terjadi.

Umumnya masyarakat desa memiliki dasar berfikir teologis yang serba tanggung. Mulai dari yang mengaku paling beriman, hingga menjadi manusia pembela agama dengan mengorbankan segenap jiwa raga.

Hal ini tentu sangat tidak dianjurkan oleh syari’at. Pasrah terhadap takdir juga tidak elok untuk diterapkan. Tuhan selalu menyuruh hambanya untuk selalu berusaha, termasuk berusaha agar melindungi diri dari wabah penyakit menular ini.

Pada kenyataannya, covid-19 ini tidak boleh diremehkan penularannya. Penduduk bumi pun geger dan seluruh penjuru dunia santer membicarakan keganasan virus ini. Virus mematikan tersebut terbukti telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia di seluruh dunia. Meski tidak tampak secara visual, covid-19 atau yang lebih di kenal dengan virus corona ini nyatanya telah membuat manusia kehilangan akal dan kewalahan untuk mengantisipasinya.

Khususnya kasus virus corona yang menimpa Indonesia terbilang cukup memprihatinkan. Pasalnya, dari hari ke hari statistik jumlah manusia yang terinfeksi mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Melihat kondisi negara yang yang saat ini sedang tidak baik-baik saja, maka nurani siapa yang takkan tersentuh. Siapa pun yang berfikiran waras pasti sesak di kala melihat korban berjatuhan silih berganti.

Tetapi jangan jadikan kejadian tersebut sebagai alasan bahwa ini adalah kehendak Tuhan, upaya-upaya untuk mem proteck diri tidak dilakukan. Nabi pun juga prepare dan menyiapkan ketahanan tubuh yang kuat sebelum berperang di medan juang. Jangan sampai salah satu dari kita nantinya menjadi korban karena terlalu mengganggap enteng wabah covid-19 ini.

Hidup dan matinya manusia adalah turut andil dari manusia itu sendiri. Tuhan hanya menuruti mekanisme yang telah ada. Termasuk kita bisa meninggal akibat covid-19 apabila kita tidak mengindahkan himbauan dari pihak berwenang.

Di manapun warga negara Indonesia berada, baik yang tinggal di kota maupun di desa, baik pemerintah pusat maupun daerah, mari bersatu melawan pandemi ini dengan melakukan jaga jarak, menerapkan pola hidup sehat, lingkungan yang bersih dan rajin cuci tangan. Virus akan mati dengan sendirinya apabila kita juga siaga untuk menghadapinya.

Jangan katakan anda meninggal karena covid-19 itu adalah takdir, apabila anda masih tetap beraktivitas yang tidak jelas berketentuannya.

Itu mati konyol namanya. Walaupun tinggal di kampung jangan santuy lagi yah, karena virus tidak memandang siapa kamu dan di mana kamu tinggal, untuk itu jangan gegabah.

Sejauh ini evaluasi dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah, masih belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang masih ngeyel dan tidak mentaati peraturan pemerintah.

Oleh karena itu mari sama-sama dukung kebijakan pemerintah untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam mengatasi penyebaran covid-19 ini. Mari sama-sama kita berusaha dan berdoa semoga wabah ini segera dicabut dan dimusnahkan dari muka bumi ini oleh yang maha kuasa.

Oleh: Alpin Daya Aboni (Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat)

Rubrik       : Kolom, Opini

Pos terkait